Cerita Soal Sunat (Lagi) - Adisty Titania

Rabu, 22 Agustus 2018

Cerita Soal Sunat (Lagi)

Masih soal cerita sunat.

Ternyata yang namanya sombong, jumawa, pongah, apapun itu namanya emang nggak boleh, ya?

Hahahaha.... Mungkin, bagi secuil orang yang sempat lihat IGs atau foto saya yang cerita soal Bumi sunat, termasuk temen-temen deket yang sudah main ke rumah pada ngeh, kalau kemarin saat Bumi sunat, saya sempet jumawa gara-gara dramanya nggak banyak.

Iya, anaknya nggak rewel.


Temen-temen deket dan saudara yang sempat mampir saat acara syukuran juga bisa liat kalau Bumi nggak rewel. Bagitu abis sunat, anaknya ini bisa jalan dan main kaya biasa. Ya, cuma tetep aja nggak boleh lari-larian dan main bola, ya 😁😁

Setelah proses sunat, anaknya cuma merintih pas mandi dan dikasih betadine aja. Sisanya? Beneran nggak ada drama.


Tapi, eh tapi...beberapa hari setelah sunat, saya dan suami ngerasa ada sesuatu yang salah.... 

Umh, maksudnya kami berdua mempertanyakan jahitan penis Bumi. Ya, maklum.. namanya juga pengalaman pertama nyunatin anak. Semacam clueless, gitu.

Sampai-sampai timbul "Kondisi penis anak yang baru disunat kaya gimana, sih? Kalau gini wajar nggak, ya?"

Jadilah hampir setiap hari saya selalu wa ke dokternya buat konsultasi sekalian gue kirimin foto Mr. P-nya Bumi.

Selama konsultasi dengan kirimin barbuk berupa foto, katanya, sih, Mr. P Bumi memang bengkak. Alhasil, kondisi ini bikin kulupnya jadi ikut bengkak, sehingga ujung Mr. P menyembul sedikit aja.

"Dok... kondisi gini wajar? Kok, ujung Mr.P-nya hanya menyembul sedikit ya? Saya khawatir kalau nantinya nggak berubah. Kondisinya kaya gitu terus..." cerocos saya.
"Itu masih bengkak, Bu... nggak apa-apa kok, sambil dikasih betadine, ibu tarik aja kulupnya..." 
"Waduh... anaknya kesakitan, dok. Sudah saya tarik sedikit aja, tapi anaknya ngeluh sakit. Saya jadi ga tega." 
"Sebenernya gak apa Bu... tapi kalau ibu khawatir, bisa kontrol lagi aja ke klinik."

Dari pada ada apa-apa, besoknya kami pun meluncur ke klinik buat cek. Setelah dicek, menurut dr. Oki yang nanganin Bumi, kondisinya baik-baik. Hanya memang, ya, masih bengkak, dan ini normal terjadi.

Untuk mengurangi bengkak, dokter juga nyaranin supaya Bumi berendem sehari dua kali. Katanya, dengan rutin berendam bisa bantu ngurangin bengkak pada Mr. P. Dengan begitu ujung Mr. P pun bisa menyembul kembali.

Ok, sip.

Saran ini kami lakukan.

Tapi setelah beberapa hari, setelah Mr. P nggak bengak, kok, ujung Mr.P-nya nggak menyembul juga ya??? *ibuk mulai khawatir lagi

Ya, gimana kan, ya... Mr. P itu kan 'harta' anaknya laki-laki. Kalau ada masalah, bisa gaswat.

"Coba cari second oppinion, kita ke rumah sakit aja, tanya apa kondisi kaya gitu wajar apa nggak," kata suami.
"Udah tanya ke dokter Ricky, kok, yang punya klinik. Tapi katanya normal... Terus dia tanya, apa Bumi gemuk apa nggak. Begitu aku kirimin foto, katanya sih badan Bumi termasuk besar. Dan katanya anak yang badannya besar itu lemaknya banyak, jadi ya risikonya begitu. Tapi lama kelamaaan juga akab kembali normal. Katanya, kalau emang masih khawatir juga, diperiksa aja. Malah kalau perlu direvisi," jawab saya waktu itu.

Begitu denger penjelasan dokter, saya dan suami jadi browsing lagi soal sunat pada anak bertubuh besar.

Ternyata, untuk anak yang bertubuh besar memang ada risiko untuk dilakukannya sunat ulang, atau sunat dua kali.


Eh, apa? Gimana? Sunat dua kali?


Kasian amaaat, kalau sampai anak sunat sunat dua kali!

Setelah baca-baca dan kunsul dengan dokter, hal pertama yang kami lakukan akhirnya ngobrol lagi sama Bumi. Kasih tau dia butuh kontrol lagi.

"Tapi aku nggak mau kalau disuntik lagi, ya, Bu... Aku nggak mau disunat lagi kan? Masa aku sunat dua kali?"
"InsyaAllah nggak kok... dokter cuma mau cek lagi. Tapi apapun kata dokter, kalau memang akan disuntik lagi, ya berarti itu memang yang terbaik,"

Sebagai orangtua gue cukup paham kalau anak ini khawatir. Tapi yang lebih saya dan suami khawatirkan lagi, ya, soal psikis Bumi. Takut anaknya trauma kalau sampai sunatnya direvisi.

Tapi, bersyukur banget kalau dr. Ricky komunikatif. Bisa jelasin dengan cukup jelas.

Setidaknya saya dan suami punya gambaran dan alasan kenapa anak yang bertubuh besar memang berisiko ngalamin sunat ulang atau direvisi.

"Gini... Kalau anak kadang ada yang lemak sekitar pubisnya tebal jadi meskipun sudah dipotong ideal sunatnya kadang kulitnya masih terdorong ke depan. Seiring waktu bertambah, ukuran penis nanti kepalanya juga nongol. Jadi sebenarnya tidak perlu dilakukan revisi. Tapi kalau Ibu memang khawatir, bisa kita lakukan revisi ulang. Terserah ibu saja..." 

Waktu itu, dr. Ricky juga bilang, kasus ini sering terjadi pada anak-anak yang bertubuh besar. Malah, kalau tubuhnya terlalu besar, a.k.a kegendutan, masalahnya bisa lebih kompleks lagi.

"Kalau anak gemuk ada risiko sunat ulang apabila prosedur sunat tidak tepat. Dengan pemotong dan jahitan yang khusus, luka tetap dipertahankan agar tetap melingkari kepala penis meskipun penis masuk ngumpet ke dalam. Bila saat penis masuk luka karena gemuk, luka masih di luar tidak ditahan kepala penis, maka ada risiko struktur yang akhirnya memerlukan prosedur revisi sunat," kata dr Ricky.

Kasus soal revisi sunat ini ternyata memang ada yang ngalamin. Setidaknya setelah ngobrol, ada saudara dan temen yang cerita bahwa mereka juga ngalamin revisi sunat atau ngalamin sunat dua kali.

Sementara, sempet baca di laman Tribun News, CEO Rumah Sunatan dr. Mahdian Nur Nasution Sp. BS juga ngejelasin soal risiko anak sunat dua kali.

Sama seperti yang dibilang dr. Ricky, untuk anak-anak yang tubuhnya besar atau gendut, memang ada risiko seperti ini.

Kebanyakan rumah sakit dan klinik sunat pun menyarankan anak jalanin terapi hormon sebagai solusi untuk mempermudah tindakan sunat yang nantinya dilaksanakan. Tapi, terapi hormon sendiri memiliki makna penggunaan hormon dalam penanganan medis.

Terapi hormon ini memang dianjurkan untuk anak-anak yang ngalamin mikro penis. Dan alhamdulillah, kondisi ini nggak terjadi sama Bumi.

Saat konsultasi dengan dr. Ricky, ia juga bilang bahwa kondisi yang dialami Bumi sebenarnya wajar. Jadi nggak perlu khawatir berlebihan.

Yaaaah... namanya juga orangtua, ya....  kayanya, nih, rasa khawatiran udah jadi nama tengah yang nggak bisa lepas, hehehee....

Saran saya, sih, buat ibu-ibu yang mau nyunatin anaknya memang perbanyak informasi dulu, deh. Lah saya dan suami yang udah cari informasi soal sunat anak masih khawatir gini... gimana yang sama sekali nggak punya baca-baca dulu.

Ingat! Malas baca dan malu bertanya bisa sebabkan tersesat di jalan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar