Memang Boleh, Ya, Kita Masuk Ke Rumah Ibadat Selain Masjid? - Adisty Titania

Rabu, 27 September 2017

Memang Boleh, Ya, Kita Masuk Ke Rumah Ibadat Selain Masjid?

Pertanyaan inilah yang langsung diajukan anak saya, Bumi, begitu saya cerita kalau baru aja ikutan wisata rumah ibadat mewakili Mommies Daily bersama Komunitas Bhineka. Waktu itu agendanya memang mengunjungi 6 rumah ibadat, mulai GKI Cinere, Vihara Ratana Graha, Lithang Bakti, Masjid Jami' Imam Bonjol, Gereja St. Matias, dan Pura Amerta Jati.

Begitu tahu akan liputan Rumah Ibabat, saya sudah niat untuk ngajak Bumi ikutan. Sayangnya,  program ini memang ditujukan untuk anak kelas 4 sampai kelas 6 aja. Sementara Bumi Itukan masih kelas 2. Waktu saya tanya ke Mbak Vera Itabiliana, psikolog anak yang ikut mendampingi, ia bilang keputusan program ini bisa diikuti anak kelas 4 lebih dikarenakan alasan kondisi fisik saja. Maksudnya, anak kelas 4 dianggap sudah lebih kuat untuk keliling ke 6 lokasi rumah ibadat.

Ya, benar saja, sih, lah wong saya aja ngerasa cukup capek, gimana kalau anak kelas 1 atau kelas 2 yang ikutan juga?  Gempooor booook, hahahha. Bisa-bisa semua pendamping dibikin repot ngadepin  keluhan anak-anak yang ngedumel karena kepanasan dan capek jalan-jalan, plus naik turun bis!

Kerennya, nih, sejak awal keberangkatan sampai acara selesai, semua peserta itu kelihatan happy banget. Di sela-sela aktivitas,  saya juga sempat ngajak ngobrol beberapa peserta, bagaimana tanggapan mereka setelah ikutan acara rumah ibadat. Jawabannya hampir seragam. Seru, meskipun sedikit melelahkan.



Terbukti, sih, mereka kelihatan banget antusias mengikuti wisata rumah ibadat. Terlihat dari inisiatif mereka untuk mencatat hal apa saa yang dianggap penting, dan bagaimana mereka bertanya pada perwakilan setiap rumah ibadat. Meskipun pertanyaannya terlihat sepele, tapi justru sangat ngena dan mungkin nggak pernah terbersit di pikiran kita, orang yang sudah dewasa.

Saya sendiri sangat salut sejak tahu kalau ada program semacam ini. Bukan apa-apa, saya sih, ngerasa kalau anak-anak memang perlu belajar banyak hal mengenai keberagaman antar umat bergama. Bahwa berbeda itu sangat biasa. Apalagi untuk anak-anak yang sekolah di sekolah yang homogen, seperti anak saya. Semua teman-teman di sekolahnya sudah dipastikan muslim. Sementara, saya dan suami sama-sama lahir dan dibesarkan di lingkungan orangtua yang memeluk agama Islam. Sudah bisa dipastikan lingkungan keluarga kami memang mayoritas Islam. Lingkungan tetangga juga hanya segelintir yang non muslim. Intinya, lingkungan anak saya itu memang mayoritas muslim.

Program seperti inilah yang memberikan kesempatan Bumi untuk belajar dan mendapatkan pengalaman. Punya kesempatan untuk terpapar dengan beragam pengalaman yang mengajarkan bahwa pada dasarnya semua agama mengajarkan hal kebaikan. Waktu itu Mbak Vera juga bilang kalau tujuan diadakan wisata rumah ibadat ini hanya sebatas mengenalkan keberagaman, harapannya anak-anak bisa punya toleransi pada teman-temennya meskipun agamanya nggak sama. Dengan begitu bisa lebih lebih menghargai, punya pengetahuan yang lebih luas dan bebas prejudice, dan satu lagi bisa nambah temen! Soalnya kan peserta wisata rumah ibadat ini memang terdiri dari beberapa sekolah.

Mbak Vera juga menambahkan pada usia 7-12 tahun, anak masih perlu mengembangkan kecerdasan kognitifnya, salah satunya adalah 'concrete operational'. Di mana dalam tahapan ini anak perlu belajar agar bisa berfikir secara logis lewat peristiwa-peristiwa yang konkrit.

Balik lagi ke pertanyaan Bumi mengenai boleh tidaknya umat muslim ke rumah ibadat lainnya, ketika itu saya hanya memberikan respon dengan mengajukan pertanyan lagi. Menurut teori psikologi yang saya dapatkan dari beberapa psikolog, termasuk Mbak Vera, saat anak bertanya, orangtua memang perlu tahu sejauh mana pemahaman anak lebih dulu. Lagian cara ini juga kasih kesempatan saya mikir utk kasih jawaban yang tepat.

Tapi…. berhubung anaknya juga sudah cukup kritis, proses tanya jawab ini pun akhirnya berlangsung alot, hahahhaa….

“Memangnya nggak apa-apa, ya, Bu, kalau kita masuk ke Gereja atau Pura?” 
“Menurut Mas Bumi, gimana?” 
“Ya, aku nggak tahu… makanya aku tanya ke Ibu. Kok ibu malah tanya lagi, sih?” 
“Hahaha… ya, ibu mau tahu aja pendapat Mas Bumi.” 
“Nggak dosa, bu, kalau kita ke gereja?” 
“Menurut Mas Bumi, dosa itu kalau kita ngapain?” 
“Ya, kalau nggak sholat, atau makan babi,” 
“Menurut ibu, sih, nggak dosa ya… kan di sana cuma untuk keliling aja. Cari tahu gereja atau rumah ibadat lain selain masjid itu bentuknya seperti apa. Ada apa aja di sana…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar