Jangan Cuma Jadi Follower.... - Adisty Titania

Jumat, 18 Agustus 2017

Jangan Cuma Jadi Follower....

“Karena, sekali lagi, yang sedang happening dan tren belum tentu yang benar bukan?” – dr Meta Hanindita SpA.

Kutipan di atas saya ambil dari blognya dr. Meta, dokter anak yang selalu berbaik hati kasih informasi soal kesehatan anak. Ini nggak cuma untuk keperluan penulisan di Mommies Daily aja, lho, ya.  soalnya dokter anak yang berpraktik RSUD Dr Soetomo, Surabaya ini juga nggak keberatan kalau saya tanya-tanya meskipun untuk kepentingan pribadi. Contohnya semalam, dr. Meta langsung kasih saran terbaik ketika tahu-tahu anak saya hampir setengah hari muntah tak berkesudahan *makasih banyak, ya, dok..  *salim :D

Nah, beberapa hari lalu saya juga habis ngobrol dengan dr. Meta.  Awalnya sih, memang saya lagi mau update soal vaksin lanjutan untuk anak SD, termasuk soal vaksin MR. Tapi ujung-ujungnya kami malah ngebahas soal BLW yang belakangan ini kembali dibikin ngetren sama seorang artis.

Ternyata metode BLW yang ia terapkan memang banyak diikutin sama follower-nya. 
Sayangnya, para follower-nya ini sepertinya main asal ikut-ikutan aja. Tanpa lebih dulu konsultasi dengan ahlinya, dalam hal ini tentu saja dokter anak.



Beberapa hari lalu, juga ada cuitan seorang dokter yang bilang kalau dirinya baru saja selesai operasi Karena usus bayi  yang terlipat karena diberi makanan padat sebelum waktunya. Bahkan, pemilik akun twitter @aan__ ini juga sempat mengeluhkan kalau kebanyakan ibu-ibu masa kini alias ibu milenial yang pinter ini suka lupa dengan kepentingan dan kondisi bayinya. 

Duh, sedih nggak sih? 

Rupanya, terlipatnya usus bayi memang jadi salah satu risiko yang bisa didapatkan kalau anak yang belum siap makan makanan padat, tapi sudah diberikan. Mengenai BLW, dalam blog-nya dr. Meta juga sudah cukup panjang memberikan penjelasan mengapa BLW tidak direkomendasikan untuk dikenalkan pada tahapan awal MPASI. Sok, langsung buka blognya dr. Meta. 

Makanya, sebagai dokter anak, dr. Meta dan rekan sejawatnya banyak yang miris kalau ibu-ibu milenial ini banyak yang gampang banget ikutan tren. Gampang terbawa arus, gitu…. Apa yang lagi hietz, langsung aja dicaplok. Ditiru tanpa memerhatikan sesuai apa nggak dengan dirinya. Mungkin untuk dianggap kekinian? Bisa jadi.

Tapi bisa dimaklumin, sih, dari beragam survei memang terbukti generasi millennial itu nggak mau sedikit pun melewati informasi yang sedang tren. Kebanyakan akan mengacu tren, yang dilihat dari sosial media. Hal ini pun berlaku pada tren pola asuh. Tapi lagi-lagi, apa iya semuanya lantas ditelan begitu saja? Rasanya, sih, nggak.

Buat saya, urusan pola asuh ini sangat personal. Lah wong, nasihat dari orangtua saja ada kalanya nggak saya ikutin karena memang rasanya sudah nggak cocok. Nah, gimana dengan orang lain? Artis yang saya kenal cuma lewat media massa.  Langsung ngikutin tren tanpa lebih dulu konsultasi dengan ahlinya.

Ok, dalam hidup kita memang perlu role model, bikin kita terpacu untuk melakukan yang terbaik, Bukan berarti harus maksain diri jadi sama kan? Apalagi soal gaya asuh. Bukan apa-apa, kalau saya hanya mencoba untuk ingat kalau pada prinsipnya semua orang, termasuk anak-anak kita unik. Jadi nggak perlu diperlakukan seragam. Yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Selain itu, menurut saya sih, kadang kala apa yang dianggap orangtua paling benar dan terbaik untuk anak, belum tentu demikian. 

Semula saya pikir, orang-orang yang jadi follower ini adalah mereka yang mungkin saja level pendidikannya nggak tinggi. Tapi saya salah. Bahkan, kemarin waktu ngobrol dengan dr. Meta, ia menyebutkan bahwa banyak yang high educated. Namun, memang mereka semua itu ibu-ibu baru, yang baru punya satu anak.

Dr. Meta juga menegaskan kalau sejak awal metode BLW dikenalkan terlalu dini, maka ada beberapa risiko yang menanti, contohnya anemia defisiensi besi dan stunted. “Bahkan, di Negara seperti New Zealand yang Departemen Kesehatannya aware banget juga sudah mengeluarkan aturan resminya, kalau BLW itu nggak direkomendasikan. Masalahnya dari penelitian yang sudah ada di luar, BLW memang penyebab defisiensi besi dan will not growing well,” jelas dr.Meta lagi.

Nggak heran kalau akhirnya dr. Meta bilang, “Please…. Jangan gampang ikutan tren. Cari tahu dulu yang bener kaya gimana. Kan kalau dalam agama Islam juga ada hadist yang bilang, ‘Jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu’,”.

Kemarin, saya juga sempat tanya, apakah semua dokter anak punya pandangan serupa, tidak merekomendasikan BLW untuk dikenalkan sejak awal MPASI? Dan, menurut dokter Meta, memang iya. Sampai sekarang IDAI mengacu pada WHO yang merekomendasikan pemberian MPASI secara responsive feeding, bukan BLW. Kalaupun ada dokter yang memberikan rekomendasi, kemungkinan besar bukan dokter anak.  



Nulis soal ini saya jadi flash back sedikit, zaman jadi ibu baru dan lagi getol-getolnya cari informasi soal MPASI, saya pun pernah membaca soal BLW. Tapi, waktu itu saya memang nggak menerapkannya. Saya lebih memilih metode pemberian MPASI yang konvensional. Lebih dulu buah-buahan, sayur, dan berbagai jenis protein dengan cara dihaluskan. Lambat laun, teksturnya pun jadi lebih kasar.

Ketika anak saya usia sudah masuk 7 bulan, baru deh saya kenalin dengan finger food. Itu pun cuma dikenalkan aja, karena saya tetap nyuapin. Bukan apa-apa, saya sih, cuma takut kalau kandungan nutrisinya nggak tercukupi kalau memang  nggak saya suapin. *ibu parnoan*. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar