Ibu yang Memutilasi Anaknya, Pantaskah Disalahkan? - Adisty Titania

Selasa, 04 Oktober 2016

Ibu yang Memutilasi Anaknya, Pantaskah Disalahkan?

Gila!

Ada Ibu yang memutilasi anaknya!

Di mana otaknya? Di mana perasaannya? Di mana nalurinya sebagai seorang ibu?


*Ilustrasi dari Wikihow

Sebagai orang awam sekaligus ibu, respon  inilah yang langsung muncul ketika saya membaca berbagai pemberitaan yang menuliskan soal kasus mutilasi yang dilakukan seorang ibu pada anaknya di kawasan Cengkareng.

Jika seorang ibu dalam kondisi sehat, ketika melihat anak jatuh saja, kita sudah ikut merasa sedih. Lantas, bagaimana bisa seorang ibu melakukan perbuatan yang sudah di luar batas nalar seorang manusia kaya gini? 

Bagaimana mungkin seorang ibu mampu memutilasi anaknya dengan tangannya sendiri? Anak yang baru berusia 1 tahun, yang sudah hidup bersama sejak dalam kandungan. Bisa jadi ada sesuatu yang salah. 

Sesaat setelah membaca beritanya, saya langsung membatin, “Mungkin ibu ini sudah kehilangan kesadaran. Mungkin ibu ini sudah gila."

Jadi, ibu yang membunuh anaknya dengan cara mutilasi itu gila? Bisa jadi.

Yang saya tahu, punya anak apalagi masih bayi, memang nggak mudah. Kondisi psikis dan mental seorang ibu memang harus baik. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa membesarkan, merawat dan membimbing anak kalau kondisi mentalnya nggak sehat?

Jika kondisi mental seorang ibu tidak sehat, selepas melahirkan dan punya anak bisa saja ia mengalami baby blues, kondisi di mana seorang ibu merasa sedih melulu. Nggak bahagia kalau dirinya punya anak. Saya jadi ingat, seorang teman pernah curhat dan tanya ke saya, kalau dirinya sering menangis ketika melihat bayinya. Saat bayi nangis, bukannya didekap dan berusaha mencari tahu penyebab kenapa anaknya nangis, si ibu malah ikut nangis. Malah, sampai 'nangis bombay'.

“Ada yang salah sama diri gue, ya, Dis?” begitu katanya.

Mendengar keluhannya, saya ikut iba dan merasa sedih. Berhubung saya bukan psikolog, saya pun nggak bisa memberikan banyak petuah. Hanya saja berusaha membantu semampu saya.

Saya pun pernah mendengar cerita seorang teman yang mengatakan dirinya mengalami post partum depression. Sebuah kondisi yang lebih parah dari sekedar baby blues. Kalau baby blues, cenderung merasa sedih dan nggak bahagia, post partum depression lebih kepada perasaan marah. Ibu jadi lebih temperamental karena nggak bisa mengendalikan emosinya. 

“Dulu… anak anak gue nangis, rasanya mau gue banting aja. Nggak tahan melihatnya.” begitu cerita teman saya.

Syukurnya, teman saya ini menyadari ada yang salah dengannya, ia pun segera memutuskan pergi ke psikolog untuk membantu keluar dari kondisi ‘kegilaannya’.

Bagaimana jika ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya? Bahkan dengan cara memutilasi? Apakah peristiwa ini berkaitan dengan kondisi post partum depression?

Ternyata bukan…

Mbak Nina Teguh, psikolog anak dan keluarga, lewat statusnya di Facebook menuliskan kalau ada seorang ibu membunuh anaknya, apalagi ada anaknya yang masih batita, coba cek apakah ibu itu mengalami Post Partum Psychosis (PPP) atau psikosis pasca melahirkan atau tidak.

Mbak Nina menjelaskan, PPP merupakan gangguan pasca melahirkan yang berbeda dan jauh lebih berat dibandingkan Baby Blues bahkan Post Partum Depression (PPD). Kenapa? Soalnya PPP bisa terjadi bersamaan dengan Baby Blues atau PPD, atau bahkan setelahnya, namun sering dialami dalam waktu lebih panjang.

Kebayang, dong? Ketika seorang ibu mengalami baby blues ataupun PPD, bayi saja sudah menderita, bagaimana jika si ibu mengalami PPP?

Dalam statusnya, Mbak Nina menuliskan, menurut para peneliti, hampir 80% ibu mengalami Baby Blues sekitar 3-5 hari setelah melahirkan. Ia merasa kelelahan, kadang malas mengurus bayi, mood swing alias suasana hati yang berubah-ubah sehingga baru saja senang tiba-tiba bisa menangis sedih, juga mudah tersinggung. Biasanya gejala-gejala tersebut menghilang dalam dua minggu setelah mengalaminya.

Sementara PPD berbeda. Kondisi ini bisa muncul pada saat yang bersamaan dengan Baby Blues, ataupun setelahnya. Namun tidak hilang dalam dua minggu, bisa berlangsung jauh lebih lama. Biasanya ibu tak hanya mengalami gejala-gejala di atas, namun juga mengalami perubahan pola makan dan mengalami gangguan pola tidur

“Ibu juga merasa sulit menyayangi bayi, bahkan mengutuk diri sebagai ibu yang buruk. Apabila terjadi lebih berat atau lebih parah, ibu bahkan berusaha MENYAKITI DIRINYA SENDIRI atau bahkan mencoba bunuh diri.”

Kalau Susan Hatters Friedman, pakar psikologi dari University of Auckland in New Zealand mengatakan perempuan PPP memang sudah kehilangan kesadaran dengan realitas hidupnya, artinya apa yang dilakukan bisa berbahaya bagi dirinya sendiri dan bayinya. Seperti yang saya kutip dari laman The Truth About Postpartum Psychosis, dalam beberapa kasus perempuan dengan PPP nggak punya kemampuan untuk melakukan bonding dengan bayinya.

Sayangnya, gejala PPP ini bisa muncul kapan saja, tanpa permisi,. "PPP is like a tornado because it can come out of nowhere," kata Moyer.

Kenapa bisa terjadi?

Ternyata seorang ibu yang mengalami PPP, ada masa-masa di mana kesadarannya seakan ‘terpisah’ dari kenyataan. Mbak Nina mencontohkan, seorang ibu yang mengalami PPP merasa mendengar suara yang tak bisa didengar orang lain atau melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain. Singkatnya, si ibu akan memiliki  halusinasi.

Rupanya, halusinasi inilah yang  menyuruhnya untuk membunuh bayinya demi menyelamatkan bayi tersebut.

“Artinya ibu tersebut membunuh bayinya BUKAN KARENA TEGA, namun karena kasih sayangnya yang luar biasa, tapi tidak sedang dalam fase sadar."


Mbak Nina juga menjelaskan, seorang ibu bia saja mengalami PPP dikarenakan biasanya ia telah mengalami kondisi hidup yang begitu luar biasa sulit, dan ia tetap bertahan.

 “Oleh karena itu, sungguh tega sekali kalau orang-orang justru menghakimi ibu ini. Ibu ini justru sangat perlu ditolong untuk dapat kembali berfungsi normal sebagai seorang ibu yang mencintai keluarganya. Semoga ibu yang sedang dihakimi oleh banyak orang itu bisa mendapatkan pertolongan yang tepat. Jika ada yang mau membawa ibu tersebut ke Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI, moga-moga saya bisa membantunya,” ungkap Mbak Nina seperti yang saya kutip dalam status Facebooknya.

Saking penasarannya, saya pun langsung bertanya ke Mbak Nina perihal kasus ini. Mbak Nina sendiri sangat menyayangkan dengan banyaknya pemberitaan yang menyudutkan si ibu,

"Isi pemberitaannya, tuh judgement banget ke si ibu. Ada beberapa status teman yang juga ngomongin, tapi ya gitu... menyayangkan kesadisan ibu. Ada juga yang menuduh si ibu depresi. Padahal kalau ibu 'cuma' depresi, biasanya tidak sampai membunuh bayi."

Seperti yang dituliskan di beberapa situs berita, kalau sebelum peristiwa mutilasi tersebut, si ibu beberapa hari sudah pendiam, dan berbicara sendiri. Setelah memutilasi, ia pun dalam keadaan telanjang. "Artinya kan, si ibu sudah gak betul betul sadar sama dirinya."

"Apakah ada kemungkinan si ibu mengalami bipolar?" tanya saya.

"Kalau bipolar juga nggak sampai membunuh, sih, biasanya. Lagi pula kasus mutilasi ini rasa khas, membunuh anaknya sendiri dan anaknya berusia 1 tahun. Tapi memang sebelum saya memeriksa dia, saya nggak bisa memastikan kalau dia mengalami PPP. Tapi kalau berdasarkan yang dituliskan di media, gejalanya lumayan kentara, ya..." 
"Sebenaranya kondisi ini bisa dicegah kan, ya, Mbak?"

"Mestinya memang bisa dicegah, dan kalau orang-orang disekitarnya sudah tahu at least bisa dicegah jangan sampai mencelakakan dirinya sendiri dan anak-anaknya."

Jadi.... perihal kasus ibu yang memutilasi anaknya, pantaskah ia disalahkan?

12 komentar:

  1. Ga juga sih bener kata Mba Nina psikolog dari ui bahwa ibu ini memang perlu ditolong... karena kesulitan ekonomi, kurang perhatian dan dukungan moril pasca melahirkan dari suami jg hidup dia secara personal yg tidak bahagia bisa jadi pemicu untuk dia melakukan mutilasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... nggak kebayang, sih, kalau ibu yang alamin PPP kaya gini nggak ditolong secepatnya... :(

      Hapus
  2. PPP memang punya banyak dampak buruk yang super bahaya kalau tidak segera ditolong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak... ngeri banget, yaaa.. Makanya perempuan ga boleh banget anggep sepele kalau mau hamil dan punya anak.

      Hapus
  3. Aduuh tetep aja dehh ibu yang memutilasi anaknya tidak termaafkan.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya namanya mengilangkan nyawa manusia, ya, Lin... :(

      Hapus
  4. Aduuh tetep aja dehh ibu yang memutilasi anaknya tidak termaafkan.. :(

    BalasHapus
  5. nggak bisa bayangin kalau ibu ini 'sembuh' dan menyadari tindakannya ke anaknya :( tp bener sih, kl ga disembuhkan next time hal ini bs terulang lg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa Myr... nggak kebayang, ya, kalau ibu ini sembuh... tahu sadar kalau anaknya udah dia mutilasi :( Gue rasa sih prosesnya bakal panjang bangeeeet...

      Hapus
  6. Hai Mbak Adisty, saya Isma, kontributor Tabloid Nakita. Kebetulan saya sedang mengerjakan tulisan tentang Baby Blues pada Ibu dan membutuhkan testimoni Ibu yang pernah mengalami post partum depression, bolehkah saya meminta kontak teman Mbak Adisty yang mengalaminya seperti yang Mbak ceritakan di atas untuk mengajukan permohonan wawancara? Kalau berkenan, bisa hubungi saya di anggi.isma@gmail.com ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Anggi... Duh maaf saya baru baca komentarnya. Boleh kok. Wa saja saja, ya... 081511528334.

      Hapus
  7. Duluuuu Waktu lahiran aku juga pernah baby blues kayanya. Sedih yang gatau juga apa yang bikin sedih, Mood swing paling parah seumur-umur. Untungnya suami support terus, akhirnya normal lagi. Mungkin selain bantuan dari sisi psikologi, obat dan pencegahan yang mumpuni itu support dari orang terdekat ya...

    BalasHapus