Observasi Masuk SD, Penting Atau Sekadar Formalitas? - Adisty Titania

Senin, 14 Desember 2015

Observasi Masuk SD, Penting Atau Sekadar Formalitas?

"Dissss..... ngeri banget, sih, lihat postingan elo di path pas Bumi lagi observasi sekolah. Emang segitunya, ya?"

"Boook... anak loe masuk SD apaan, sih? Sampai ada tes keislaman segala kaya gitu? Anak harus bisa baca Al-Quran?"

"Wah... gue sih nggak bakal mau tuh pilih sekolah yang observasinya kaya gitu. Kalau sekolah terima anak yang sudah siap dan matang...." 

Kira- kira begini, deh, respon beberapa temen waktu gue posting foto Bumi saat observasi SD. Seperti yang sudah sempat gue tulis di Mommies Daily, gue memang sudah survei ke beberapa SD di Tangerang Selatan. Akhirnya, setelah proses diskusi sama Pak Suami, memilah, menimbang dan tentunya mencocokan kondisi keuangan kami, akhinya kami sepakat untuk membeli beberapa formulir SD.  Formulir SD yang pertama dibeli adalah SD Mumtaza, lalu Sinar Cendekia di BSD, dan yang terkahir beli formulir di Al Fath.



Akhir bulan November lalu, adalah pengalaman pertama gue dan Pak Suami sebagai orangtua dan tentunya Bumi dalam hal observasi SD ini. Jadi, observasi pertamanya Bumi waktu itu di SD Mumtaza. Alhamdulillah.... waktu itu nggak pakai acara drama dulu. Awalnya, Bumi cuma minta ditemenin masuk kelas. Tapi nggak lama, gue pun bisa langsung ke luar kelas.

Observasi pertamanya adalah psikologi test. Di sini anak-anak yang observasi cuma diminta gambar sambil diminta untuk menuliskan namanya sendiri. Di kelas ini, anak-anak juga diajak ngobrol untuk mengetahui gimana cara si anak berkomunikasi. Katanya, sih, dari sini akan terlihat apakah anak kita berkebutuhan khusus atau nggak.

Setelah itu, baru deh Bumi masuk kelas tes akademis. Di sini dilihat sejauh mana kemampuan anak dalam mengenal huruf dan membaca. Observasi yang terakhir adalah tes keislaman. Wiiiih... agak deg degan juga, sih.... secara sampai sekarang Bumi belum ikut TPA. Belajar ngenal huruf Arab dan baca cuma di sekolah aja. Tapi, untuk bacaan doa-doa keseharian seperti doa mau makan atau mau tidur, termasuk surat kecil, alhamdullilah memang sudah gue biasain. Jadi, Bumi cukup hapal.


Waktu Bumi lagi di dalam kelas tes keislaman, gue sempet ngobrol dengan salah satu guru yang ada di sana. Tanpa gue tanya, guru ini langsung bilang, "Bumi pintar, ya, Bu, anaknya senang tanya dan sudah pintar ngomong." :D

Wah, kalau perkara ngomong, nanya sama protes, gue sih cukup tahu kemampuan anak gue, hahahaha.... Di akhir pembicaraan gurunya juga sempet ngeyakinin gue kalau dilihat dari observasi yang dilakukan, inshaAllah bisa bisa diterima di Mumtaza.  Umh, amiin dulu, deh. Buktinya sampai sekarang belum ada pemberitahuan kepastian diterima atau nggaknya.

Sminggu setelahnya, Bumi pun lanjut observasi di SD Al Fath. Sehari setelah mendaftar via online, nggak tahunya kami dapat kabar kalau Bumi dikasih jadwal observasi, tapi memang bukan di Al Fath BSD, melainkan di Cirendeu. Ya sudahlah ya.... nggak ada salahnya dicoba. Akhirnya minggu lalu, Sabtu, 5 Desember, Bumi pun observasi di sana.

Nah, untuk SD Al Fath ini memang belum gue sempat tulis di Mommies Daily. Nggak tahu kenapa pas pertama akali datang SD Al Fath BSD, gue sama Pak Suami sama-sama ngerasa nggak klik. Tapi, berhubung review dan banyak denger cerita kalau SD Al Fath ini bagus, jadi penasaran juga, sih. Akhirnya, gue pun memutuskan untuk balik lagi ke sana.

Ehhh... ndilalahnya pas kunjungan ke dua kali, kami ketemu pihak sekolah yang welcome banget untuk ceritain SD Al Fath ini. Bahkan waktu itu gue sama suami sempat diajak untuk keliling sekolah. Singkatnya, penjelasan dari pihak sekolah yang pertama dan kedua ini jauh banget bedanya. Pulang dari sana, gue sama Pak Suami punya pemikiran yang sama, "Eh, sekolah ini oke juga sepertinya? Pantaslah untuk dicoba,"

Sayangnya, berhubung SD Al Fath BSD ini cuma kasih jatah satu kelas untuk anak-anak di luar TK Al Fath, kami jadi pesimis. Apalagi waktu denger yang daftar sudah 100 0rang lebih. Sementara bangku yang tersedia nggak lebih dari 24 bangku! Weeeeh.... persaingan ketat amaaaat! Tapi nggak ada salahnya untuk nyoba. Siapa tahu rezeki, yaaa kaaan... Tapi, bener aja, sih, meskipun daftarnya di BSD, panggilan observasinya untuk Al Fath Cirendeu.

Berhubung parno, Bumi bakal ogah-ogahan untuk observasi, jadi jah sebelum hari H, gue sama Pak Suami sudah mulai woro-woro. Kasih tahu kalau Bumi perlu observasi ke SD Al Fath. Responnya? "Aku nggaaaak maaau, Buuuuu.... Kok, observasi lagi, sih? Kemarin kan udaaaah."

Alhamdulillahnya, setelah ngobrol, Bumi pun akhirnya mau observasi. Bahkan malam hari sebelum tidur, dia sempat wanti wanti minta dibangunin lebih pagi supaya sempat main dulu sebelum observasi. Gue dan Pak Suami mikirnya, bakal aman deh!

Hasilnya? Ok, Bumi mau bangun pagi.... mau jalan observasi ke SD Al Fath, tapi sampai sana dia malah drama bilang nggak mau observasi. Anaknya sama sekali nggak mau diajak masuk kelas. KZL! Padahal, gue udah coba rayu dan ngajak ngomong pakai cara termanis. Bahkan guru-gurunya pun sudah kasih pendekatan supaya dia mau masuk ke kelas bareng anak-anak lain.

Bumi kenapa nggak mau masuk kelas? | Nggak mau, ah, Bu.... itu yang dikelas kok, kakak kakak kelas aku semua? Sudah pada besar? | Nggak, kok... semuanya sama kaya Bumi... masih sekolah TK, dan semua mau kenalan juga sama guru-guru di sini... mau tahu SD Al Fath seperti apa, sih.... | Di dalam aku ngapain, bu? | Main-main aja, kok... paling gambar dan nulis sedikit, kan Mas Bumi gambarnya bagus.... yuk, ke dalam... | Nggak mau buu.... aku mau pulang ajaaaaa.... | *otak mulai ngebul *tarik napas yang panjang Jadi mau pulang aja? Ok, kalau pulang dan Bumi nggak observasi, Bumi nggak usah main Lego dulu, ya... mainan ibu situ sementara waktu, karena Bumi sudah melanggar kesepakatan. Kita tunggu bapak dulu....

Nah kan.... otak gue pun jadi ngebul :D Maklum, yaa.... sumbu sabar yang gue punya emang nggak terlalu panjang. Paling nggak kalau dibandingin sama Pak Suami. Berhubung anaknya keukeuh sumekeh nggak mau masuk ke kelas, gue pun akhirnya ngajak dia keluar sekolah nunggu Pak Suami yang memang masih cari pakir. Setelah suami sampai, langsung deh, serah terima Bumi....

Mas... anaknya nggak mau masuk ke kelas, nih, Nggak mau diobservasi katanya. Alesannya malu... kesel ah | Ya sudah.. tenang aja dulu... kalau kita kesel, Bumi nanti akhirnya malah beneran nggak mau...

Nah benerkan, sumbu sabar suami gue jauh lebih panjang? Hihihi... Singkat cerita, setelah diajak ngobrol sama suami, Bumi pun akhirnya mau ikut observasi. Dengan catatan, minta ditemenin dulu....

Sebenarnya, dari sini gue gue jadi pesimis kalau Bumi bisa masuk. Soalnya gue sempet denger beberapa teman yang cerita kalau SD Al Fath ini maunya terima anak yang sudah siap. Dalam artian, selain usianya dinilai sudah pas, kemandirian dan kemampun anak untuk mengenal huruf dan membaca juga sudah ok.

Kalau soal mengenal huruf, angka dan kemampuan baca, gue sih sudah tahu kalau Bumi mampu. Tapi kalau soal kemandirian? Lah wong, mau masuk kelas buat observasi pakai drama dulu? Mau masuk kelas aja minta ditemenin? Tapi ya sudahlah, ya... namanya juga anak-anak yang masuk lingkungn baru, pasti ni anak nervous juga.Toh, buktinya nggak lama setelah ditemenin di kelas pertama, Bumi mau juga ditinggal.

Kalau dibandingin dengan dengan Mumtaza. atmosfer observasi di Al Fath ini memamg jauh lebih ramai. Penuh dengan anak-anak yang mau diobservasi, plus para orangtuanya yang menunggu di depan kelas. Gue pikir, ini jadi salah satu faktor kenapa Bumi pakai mogok nggak mau masuk kelas buat observasi.

Observasi di Al Fath juga cukup panjang. Observasi pertamanya adalah observasi  motorik. Di sini, Bumi diminta untuk bermain dampu, berjalanan di balok titian, mengancingkan kemeja, mengikat tali sepatu dan bermain lego. Meskipun Bumi sudah gue biasakan pakai baju seragam sendiri, dan mengancingkan kemeja seragamnya, tapi tetap aja, tuh, dia nggak rata ngancingin bajunya.

Waktu diminta untuk naliin sepatu, gue lihat Bumi juga belum bisa, tali sepatunya masih dia untel untel seenaknya. Ya, maklum, sih, sampai sekarang Bumi jarang pakai sepatu sekolah bertali, jadi kemampuan naliin sepatu belum canggih. Sementara untuk tes main dampu, jalan di balok titian termasuk main lego, lancar.


Observasi ke dua lanjut dengan tes akademis, sayangnya di sini gue nggak bisa banyak mantau karena kelasnya tetutup rapat. Jadi mau ngintip aja susah, hahahaha.... tapi menurut cerita Bumi dia cuma diminta untuk gambar dan mewarnai aja. Selanjutnya, Bumi sama beberapa calon murid yang lain ngelanjutin observasi di kelas yang letaknya di lantai atas. Di sini gue juga nggak bisa lihat bagaimana proses observasinya. Bumi cuma cerita kalau dia dan teman-temannya diminta untuk mencoret atau memilih hewan yang bisa terbang. Setelah itu, selesai, deh!

Setelah Bumi selesai diobservasi, giliran gue sama suami yang diwawancara. Nah, di sini, deh, kesempatan cari tahu lebih dalam soal Al Fath. Seinget gue, proses wawancara juga nggak terlalu lama, beberapa pertanyaan yang gue inget adalah soal mengapa memililih sekolah Al Fath, apa yang diketahui dari sekolah Al Fath, visi dan misi sebagai orangtua apa saja, bagaimana sikap anak di rumah, terutama ketika anak merasa marah atau kesal. Waktu proses wawancara ini gue pun sempat tanya sebenarnya apa saja, sih, penilaian sekolah untuk memasukan memilih calon anak didiknya? Indikatornya apa saja?

Terus terang aja, sih, setelah ngelewatin dan nemenin Bumi obserasi di dua sekolah ini gue sedikit bertanya-tanya, sebenernya apa yang ngebedain observasi dengan tes biasa? Toh, pada kenyataannya kegiatan observasi itu yang sama aja kaya tes. Namanya aja mungkin diperhalus. Iya nggak, sih?
Padahal, bukannya syarat masuk SD itu hanya cukup umur?

Banyak banget kan pandangan atau komentar yang bilang, kalau ada SD yang minta calon anak didiknya sudah bisa membaca, menghitung dan pakai dites ini itu, mending coret aja SD dari daftar list.  Tapi kenyatannya, saat ini kan rata-rata sekolah memberlakukan observasi. Di mana lewat observasi tersebut pihak sekolah juga ingin tahu kemampuan anak kita dalam mengenal huruf dan membaca. Tapi baik Mumtaza ataupun Al Fath memang nggak ada tes menghitung sama sekali.

Waktu itu gue sempet ngobrol dengan psikolog anak favorit gue, Mbak Nina Teguh, Mbak Nina bilang memang saat mengobservasi anak, diperlukan beberapa tes lebih dulu. Hal ini pun ia lakukan ketika mengobservasi anak yang mau masuk SD. Tapi sebenarnya observasi ini dilakukan sebagai pemetaan saja. Sehingga pihak sekolah bisa tahu sejauh mana kemampuan calon anak didiknya. Kalau memang kemampuan rata-rata calon anak didiknya sudah baik maka proses pengelanan huruf atau angka bisa diajarkan lebih cepat.

Jadi, observasi itu memang bukan semata-mata nunjukin kalau pihak sekolah hanya mau menerima anak yang sudah matang atau sudah siap saja. Bukan berarti juga, pihak sekolah atau tenaga pengajarnya malas buat ngajarin anak-anak kita. Bener juga, sih!

Oh, ya... alhamdulillah ternyata Bumi juga diterima di SD Al Fath. Sementara kalau untuk SD Mumtaza justru belum ada pemberitahuan, nih. Sambil menunggu pengumumannya, paling nggak gue sama Pak Suami punya kesempatan untuk meyakinkan diri mau memilih sekolah yang mana. Tentunya ikut melibatkan Bumi dalam diskusi... kan yang mau sekolah anaknya. Masa nggak dilibatin? :D

Selain itu, tandanya gue sama Pak Suami harus siap2 korek tabungan!

9 komentar:

  1. Hi mbak..akhirnya bumi masuk sekolah mana? Penasaran abis baca ceritanya yang seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbak... wah, maafkaaaan... baru balas. Bumi akhirnya masuk SD Al Fath, nih... alhamdulilah meskipun pulang dan sampe rumah udah sore, anaknya enjoy dan nggak pernah ngeluh :D

      Hapus
    2. Hi mba, seru banget ceritanya... Pas banget aku lagi cari2 review mengenai Al-Fath. Jadinya, BSD atau Cirendeu mba?

      Hapus
  2. Hi mbak..akhirnya bumi masuk sekolah mana? Penasaran abis baca ceritanya yang seru :)

    BalasHapus
  3. Hi Mba... boleh nanya kah? gimana suasana bljrnya Al- Fath? kebetulan anak saya diterima yg di BSD, walo sebenrnya terhitung jauh dari rumah di Gading Serpong nih... apa yang Bumi paling senang mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Dewi, maaf banget aku nggak ngeh sama komentarnya. Alhamdulillah, anak aku seneng, Mbak. Katanya guru, temen-temen
      , dan sekolahnya menyenangkan. Malah, anaknya udah minta SMP di Al Fath juga. Akhirnya gmn Mbak Dewi, jadi ambil Al Fath?

      Hapus
  4. Assalamualaikum mba Adis, sekarang ini saya lagi cari sekolah sdit utk anak saya Reyhan, formulir demi formulir dibeli dan di isi tp begitu Hari H nya utk tes observasi anaknya mogok gak mau masuk dan stlh dibujuk lama baru mau masuk tp gak mau ngomong anaknya alhasil gak diterima di sdit, sebaiknya gimana yah mba biar anaknya mau masuk dan ngomong pas tes observasi?..thanks��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam salam.... Aduh, maaf banget kok, aku baru baca :( nggak ada notif yg masuk ke email. Terus gimna, saat ini Reyhan sdh observasi sekolahnya? Semoga akhirnya bisa ketemu sekolah yg pas, ya.

      Kalau dari pengalaman saya kmren sih, dari jauh2 hari udah diajak ngobrol. Dikasih gambaran nanti ngapain aja. Kalah kalau bisa juga sebelum hari H, diajak ke sekolahnya dulu. Waktu itu Bumi juga sempet ngambek ga mau diobservasi. Mau ga mau, awalnya saya temenin dulu. Tp pelan2 saya tinggal. Kl memang diperlukan, ga ada salahnya kasih pujian ke anak. Kasih tau pengalaman saat dia berani dan bikin kita bangga. Belajar dr pengalaman kemarin, saya sih percaya kalau ada banyak pertimbangan sekolah terima calon murid.

      Hapus
  5. mba, skrg gmn setelah anakny sekolah di alfath, dari segi agama, bahasa inggris apa betul dwibahasa?

    BalasHapus