Ibu... Bapak... Aku Siap Lahir ke Dunia - Adisty Titania

Minggu, 16 Mei 2010

Ibu... Bapak... Aku Siap Lahir ke Dunia

Ibu... Bapak….
Tidak terasa ya, kalau aku sudah berada dalam kantung rahim ibu kurang lebih selama 37 minggu. Minggu lalu, saat kalian mengontrol kondisi aku dan bertemu dengan dokter kandungan, Soemanadi di pavilion Kenanga, aku mendengar dokter yang ramah itu mengatakan kalau aku diperkirakan akan lahir bulan ini, tanggal 27 atau 28 Mei.

Ibu… Bapak…
Aku senang sekali mendengarnya. Itu tandanya sebentar lagi kita akan bertemu. Bisa langsung bersentuhan, menatap, bermain dan bersenda gurau…. Terima kasih ya, selama ini kalian telah memberikan aku yang terbaik. Mulai dari nutrisi makanan, sampai persiapan aku lahir kelak yang telah kalian persiapkan. Kalian tahu, saat kalian memilihkan aku baju, celana, popok, kaos kaki, selimut, bouncer, stroller, dan kebutuhan aku yang lainnnya, aku sangat senang sekali. Ingin rasanya aku mengatakan "Terima kasih ibu, bapak…" secara langsung pada kalian.

Ibu… Bapak….
Semakin lama aku berada dalam kandungan ibu, berat badan aku kian bertambah. Sehingga aku pun siap menatap dunia. Bersama kalian , tentunya.... :)

Ibu… Bapak…
Karena aku semakin membesar, aku pun semakin tenang dalam kandungan ibu. Gerakan dan tendanganku yang dulu sering membuat ibu kaget atau merasa geli pun semakin berkurang. Hal itu dikarenakan saat ini ruang kosong yang dulu membuatku leluasa bergerak, kini kian menyempit. Mengenai hal itu, jangan khawatir ya. Meskipun saat ini gerakan aku sedikit, tapi aku baik-baik saja kok. Kapasitas aku bergerak memang dikarenakan cairan amniotik dalam kandungan ibu semakin berkurang. Nanti, kalau ibu merasakan kontraksi, juga jangan panik ya. Itu dikarenakan membran membran cairan amniotik mulai pecah sampai proses persalinan tiba. Hal itu tentu sudah ibu pernah dengar dari pak dokteryang selalu memeriksakan kondisi aku ataupun dari berbagai informasi yang ibu baca bukan?

Ibu… Bapak…
Saat ini aku masih terus berusaha mencari jalan keluar untuk melihat dunia. Mudah-mudahan saja posisi kepala aku yang sudah ada di bawah ini semakin cepat menemui jalan lahir sehingga dapat mudah dikeluarkan.

Ibu…. Bapak…
Jika saatnya sudah tiba dimana aku akan lahir ke dunia, aku berharap tidak akan memulainya dengan sesuatu yang menyusahkan kalian. Seperti doa yang selalu kalian panjatkan setiap saat pada sang Khalik. Mungkin rasa sakit yang luar biasa yang bisa menyebabkan ibu akan merintih tidak bisa dihindari. Tapi itu diluar kekuasaanku. Sungguh.... Percayalah, kedatangan aku ke dunia tidak terpelas dari bantuan dan kekuasaan sang Khalik. Untuk itu, aku berharap kalian dapat berserah kepadaNya.

Ibu… Bapak…
Aku percaya, rasa sakit dan was-was yang akan kalian rasakan kelak akan terbayar manakala kalian mendengar aku menangis untuk pertama kalinya. Ohya, kalian tahu mengapa saat aku lahir di dunia hal yangpertama aku lakukan adalah menangis? Hal itu bukan karena aku takut atau sakit. Itu hanya sebuah reflek agar paru-paru aku bisa terbuka dan beradaptasi dengan kegiatan bernafas yang tentu akan jauh berbeda pada saat aku berada dalam rahim ibu. Selain itu, dengan menangis aku juga dapat mengeluarkan sisa-sisa cairan dalam paru-paru.

Ibu…. Bapak…
Saat hadir di dunia, kita akan sama-sama belajar. Belajar menyesuaikan dan beradaptasi. Jika ibu dan bapak terus belajar untuk mendidik dan merawat aku dengan benar, aku pun akan banyak belajar. Mulai dari belajar menyesuaikan diri dengan cahaya dan suara, aku juga akan mulai belajar sistem sensorik. Tidak percaya? Nanti, kalau kalian mencoba menutup mata aku, dengan reflek aku kan membuka mata kembali dan berusaha melihat sekeliling. Untuk beberapa saat aku pun akan mengerjapkan mataku, itu tandanya aku sedang melakukan penyesuaian terhadap cahaya yang begitu terang. Maklum saja, di saat ini berada dalam rahim ibu suasananya begitu gelap.

Ibu… Bapak…
Meskipun bukan aku yang memilih dan menunjuk kalian sebagai orang tua aku, tapi aku justru percaya bahwa pilihanNya adalah pilihan yang terbaik. Di tangan ibu dan bapak, aku yakin bisa tumbuh menjadi anak yang sehat, sholeh dan penuh bakti. Tapi menciptakan itu semua memang bukan perkara yang mudah, seperti halnya menjentikan jari. Setiap saat kita harus sama-sama belajar dan berusaha hingga dapat mewujudkannya. Tanpa ada rasa lelah dan bosan….


*Sebuah coretan akibat nggak bisa tidur dan merasa kekenyangan gara-gara makan nasi gila Pak Gendut yang dibawain Oscar dan Priska....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar