Duo Bau Yang Kaya Gizi - Adisty Titania

Selasa, 05 April 2011

Duo Bau Yang Kaya Gizi

Masih gengsi dan malu untuk mengkonsumsi pete dan jengkol? Dibalik baunya yang tajam, ke dua jenis sayuran berpolong ini memiliki banyak khasiat, lho. Soal rasa, juga tidak kalah lezat kok. Masih tidak percaya? Simak ulasan Mom Dad & I dibawah ini…


Sampai saat ini, pete dan jengkol masih banyak dianggap sebagai makanan kampungan, kelas bawah, bahkan tidak sedikit yang melecehkan dua makanan ini. Tidak heran jika banyak orang gengsi untuk mengaku bahwa dirinya suka dengan jengkol dan pete. Padahal, pete dan jengkol memiliki kandungan yang gizi yang baik. Terutama proteinnya. Jadi, untuk apa malu mengakui kalau memang menyukainya bukan?

 “Pete dan jengkol itu baik untuk dikonsumsi, tapi memang tetap ada batasannya. Makanan apapun kalau dikonsumsi secara berlebihan akan tidak bagus,” ujar dr. Shanty Iswara, MS SpGk diawal  perbincangan dengan MDI.

Lebih lanjut, dr. Shanty menjelaskan bahwa dari hasil analisa komposisi kandungan pete dan jengkol melebihi kandungan protein tahu dan tempe.  Per 100 gram terdapat 23.3 gram  protein, sedangkan kalau tempe dan tahu 100 gramnya terdapat kandungan protein sebanyak 18.3 gram. “Sedangkan kebutuhan protein kita dalam sehari dianjurkan  10-15 % dari total kalori yang kita makan,” tambahnya.

Tidak hanya protein saja, dalam petai dan jengkol ternyata juga terdapat karbohidrat, protein,  vitamin, mineral, fosfor, kalsium, alkaloid, steroid glikosida, tannin dan saponin. Dimana kandungan ini sangat baik dan sangat dibutuhkan tubuh.

Seperti yang telah dilansir dari sebuah situs, ada sebuah riset yang sempat dilakukan dan telah membuktikan bahwa kandungan pete dan jengkol berpengaruh pada kemampuan otak. Penelitian ini dilakukan oleh siswa di Twichenham yang telah berhasil dengan mudah melewati ujian  karena sarapan dan makan siang dengan pete.

Berkaitan dengan hal ini, dr. Shanty yang berpraktek di Sam Marie menjabarkan, “Pete dan jengkol dikatakan dapat menambah kecerdasan memang ada benarnya,. Namun hal ini karena pete mengandung karbohidrat yang tinggi. Jadi, karbohidratnya ada tiga unsur yaitu, sukrosa, fluktosa dan mengandung glukosa.
Ketiga factor inilah yang memeberikan energi yang tinggi,  sehingga yang mengkonsumsi akan mendapatkan energi dan merasa segar. Pete juga mengandung vitamin B6, yang mengatur kadar gula darah. Hal ini yang yang saya pikir bisa mempengaruhi bahwa mengkonsumsi pete dan jengkol dapat mempengaruhi kecerdasan otak, “ paparnya.

Sedangkan adanya asam amino yang terdapat dalam pete, yang salah satunya adalah triptofan dalam tubuh yang kemudian akan diubah menjadi serotonin yang berfungsi menurunkan tingkat stress sehingga bisa menimbulkan efek tenang, bahkan mampu mengurangi depresi.

Khasiat lain yang tidak kalah jebat dari “duo bau” ini adalah memilikikandungan vitamin dan zat besi yang tinggi. Kandungan vitamin C pada 100 gram biji jengkol adalah 80 mg, sedangkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan per hari adalah 75 mg untuk wanita dewasa dan 90 mg untuk pria dewasa.Sedangkan zat besi yang terdapat di dalam jengkol yaitu 4,7 g per 100 g.

Seperti yang kita ketahui, zat besi sangat dibutuhkan guna mencegah terjadinya anemia. Gejala-gejala orang yang mengalami anemia defisiensi zat besi adalah kelelahan, lemah, pucat dan kurang bergairah, sakit kepala dan mudah marah, tidak mampu berkonsentrasi, serta rentan terhadap infeksi.

Dr. Shanty melanjutkan, meskipun pete dan jengkol memiliki banyak khasiat karena gizi yang terdapat didalamnya, namun tetap harus tetap membatsasi dalam mengkonsuminya. Jangan sampai Anda berslogan “Tiada hari makan pete dan jengkol”.

Selain masalah bau yang kerap ditimbulkan, kandungan asam jengkolat yang terdapat pada jengkol juga harus diwaspadai. “Jadi kalau dampak negatifnya kalau jengkol itu di samping ada kandungan protein, di proteinnya itu ada kandungan sulfur, yang kalau berlebihan akan beraksi menjadi Hidrogen Sulfida (H2S). hal inilah yang menyebabkan saat mengkonsumsinya akan menimbulkan bau. Ada juga kandungan asam jengkolat, yang biasa kita kenal kalau makan jengkol berlebihan akan menyebabkan kejengkolan.

Bau tidak sedap yang yang kerap dialami setiap mengkonsumsi pete da jengkol dikarenakan asam-asam amino yang terkandung di dalam biji jengkol. Asam amino itu didominasi oleh asam amino yang mengandung unsur Sulfur (S). Ketika terdegradasi atau terpecah-pecah menjadi komponen yang lebih kecil, asam amino itu akan menghasilkan berbagai komponen flavor yang sangat bau, karena pengaruh sulfur tersebut. Salah satu gas yang terbentuk dengan unsur itu adalah gas H2S yang terkenal sangat bau.

“Untuk menghilangkan bau tidak sedap itu, sebenarnya bukan perkara yang sulit. Selain sikat gigi, setelah makan juga bisa mengkonsi ketimun. Dengan begitu, baunya akan berkurang,” sarannya.

Jika bau menjadi masalah yang masih terbilang sepele, efek samping lain, yaitu kejengkolan lebih membahayakan.  Jika sudah dalam keadaan kronis, akan bersifat merusak ginjal, yang ujung-ujungnya akan menyebabkan gagal ginjal.



“Penderitanya akan kasian sekali, karena akan kholik. Itu karena dampak ada kristalisasi dari pada  si asam jengkolat. Nah, jengkol itukan bersifat asam, kalau bercampur dengan suasana ph darah yang asam juga, kemungkinan untuk kena kejengkolan akan lebih besar dari pada orang lain. Jadi, tidak semua orang mudah kena kejengkolan.”

Siapa saja yang mudah terkena kejengkolan? Menurut dr. Shanty, oarang yang memiliki ph darah asal, dan adanya  factor genetic, mejadi salah satu pemicu mudahnya terjadi kejengkolan. “Kalau kebetulan yang makan ph darahnya asam, meskipun makan jengkol hanya sedikit tapi tetap bisa kena kejengkolan karena kristalnya itu susah keluar ke saluran air kemih sehingga merusak jaringan di ginjal,” jelasnya lagi.

Jika sudah kholik, penderita akan merasakan sakit seperti kencing batu. Urin yang keluar menjadi sedikit dan bahkan yang paling parah akan keluar darah. Selain itu, ciri lain akibat kejengkolan adalah timbul rasa mual. “Kalau dalam kondisi yang akut, masih bisa ditangani dengan banyak minum dan menetralkan sifat asamnya dengan banyak minum soda.

Di akhir pembicaraan, dr. Shanty juga menyarankan agar memilih jengkol yang sudah tua. Selain karena rasanya lebih enak dan legit,  bau jengkol yang sudah tua tidak setajam jengkol yang masih muda. Hal ini disebabkan unsure H2S jengkol muda yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan baunya yang tajam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar