De’ Amazing Journey - Adisty Titania

Rabu, 13 April 2011

De’ Amazing Journey

Sebentar lagi, mungkin dalam hitungan minggu, hari, jam atau bahkan menit, seorang bayi mungil akan hadir dan menggenapkan kehidupan kami. Saya dan suami. 

Seorang bayi mungil yang diprediksi dokter kandungan dan banyak orang adalah bayi laki-laki. “Wah, ada monasnya nih, bu” ujar dokter kandungan saat saya control kandungan di usia ke 4 bulan. “Ah, dokter, kenapa mesti bilang sih? Sayakan belum tanya soal kelamin. Wong, saya ingin menjadi kejutan saja,” pikir saya saat itu. Tapi, tentu bukan kalimat itu yang terlontar. Kalimat yang keluar dari mulut justru, “Wah, laki-laki ya Dok?” ujar saya sambil tersenyum dan menatap wajah suami yang berdiri tidak jauh dari saya. Sebuah kalimat yang menyiratkan rasa senang sekaligus terkejut. Berbeda dengan dokter kandungan yang lain, ia justru memberi komentar, “Detak jantungnya bagus, Bu. Kedengarannya sih ini bunyi jantung anak laki-laki,” ujar sang dokter.

Tidak hanya dari dokter saja, banyak orang mulai dari rekan kerja, tetangga, teman bahkan spg yang sering nyeletuk, “Anaknya laki-laki ya?”, saya pun selalu jawab dengan anggukan dan kalimat “Katanya dokter sih gitu”. Padahal, buat saya sendiri, termasuk suami, laki-laki atau perempuan sebenarnya sama saja. Yang penting sehat jasmani, rohani, mental, fisik, spriritual, dan dapat menjadi anak yang sholeh, penuh takwa, dan dapat menjadi lentera buat saya dan sami. Laki-laki ataupun perempuan, toh si jabang bayi ini merupakan anugrah dan kado yang terindah buat pernikahan kami.

Apalagi jika mengingat bahwa saya dan suami mengetahui bahwa sang Khalik telah menitipkan dan mempercayakan janin dalam rahim ini tidak lama setelah hari Raya tahun 2009 yang lalu. Sesaat sebelum saya merayakan ulang tahun yang ke 29 tahun. Tepat setelah pernikahan saya dan suami menginjak 6 bulan. Alhamdulillah…

Banyak hal yang saya pelajari setelah mengandung janin dalam rahim ini. Tidak hanya sekedar belajar mencintai, saya pun harus banyak belajar hal lain. Belajar sabar dan lebih nrimo…. Meskipun, jujur saja, tidak jarang kerewelan kerap kali muncul tanpa bisa saya bendung…

Mulai dari rewel minta makan ini itu, yang membuat badan saya dan budget bulanan kian membengkak :D rewel dengan kondisi kulit saya yang terus menghitam dan muncul bercak serta garis stretch mark di sana sini, rewel dengan rasa pegal di sekujur tubuh, serta rewel dengan kondisi pekerjaan suami yang sering pulang malam bahkan membuat tidak bisa menemani saya tidur :D Termasuk rewel dengan kondisi suasana hati yang sering seperti ‘yoyo’, naik turun. 

Ya, soal yang satu ini, meskipun sudah tau kalau wanita berbadan dua memang lebih sensitive, tapi buat saya sendiri yang sedang mengalaminya, tetap saja sering terkaget-kaget sendiri. Sebentar bisa tertawa terbahak-bahak, semenit kemudian air mata suka meleleh hanya karena masalah sepele. Ah… membingungkan! Tapi, itulah salah satu nikmatnya menjadi wanita hamil…

Sama nikmatnya dengan mengamati pertumbuhan dan membesarnya perut ini senti demi senti, gerakan sang jabang bayi yang dimulai dengan rasa kedutan hingga gerakan dan tendangannya yang semakin kencang. Mmmh, saya jadi ingat, pada suatu malam, salah satu teman dekat saya yang telah lebih dulu memiliki anak pernah mengatakan dirinya dulu sering merasa aneh dan sempat menganggap bahwa embrio yang tumbuh dalam rahimnya tidak ubahnya seperti alien. Mahluk kecil yang terus bergerak, memperlihatkan bagian tubuhnya seperti kaki, tangan ataupun sikut yang mencoba untuk keluar dari dalam perutnya. Ah… ada-ada saja :)

Yang pasti, saya sangat menikmati saat-saat melewati keajaiban 9 bulan mengandung anak pertama ini… sebuah perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup. Sebuah perjalanan yang akan merubah hidup saya menjadi seorang ibu. Sebuah tugas yang sama sekali tidak mudah, untuk itu setiap hari saya akan terus belajar, lagi, lagi, dan lagi. Rasanya, tidak sabar sekali mendengar tangisanya, dan melihat ia tersenyum dan menatap mata saya sebagai ibunya dan menatap mata suami saya, sebagai ayahnya. Terima kasih pada sang Khalik yang telah mempercayakan saya dan suami untuk menjadi orang tua. Alhamdulillah… 


Note:
Coretan ini sebelumnya sudah si publish di note FB, yang ditulis tanggal 13 Mei 2010. Kenang-kenangan saat menanti kehadiran Bumi ku yang kini sudah berusia 10 bulan^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar