Sederet Dampak Buruk Minuman Berbuih - Adisty Titania

Selasa, 25 Januari 2011

Sederet Dampak Buruk Minuman Berbuih

“Bunda… aku haus, mau minuman yang ada buih-buihnya ya, Nda. Minuman yang sering aku minum kalau makan sama ayam loh, Bunda,” rengek Nissa pada Bundanya.

Bukan tidak mungkin, contoh kalimat di atas sudah tidak asing lagi di telinga Mom and Dad. Ya, minuman yang berbuih atau soft drink saat ini memang telah banyak di tawarkan di pasaran. Bahkan tidak terhitung lagi jumlahnya. Akibatnya, banyak anak-anak yang terbiasa mengkonsumsinya.

Pertanyaannya, bolehkan anak-anak mengkonsumsi soft drink? “Jelas tidak boleh. Untuk apa mengenalkan soft drink pada anak-anak? Apalagi pada balita,” tegas Dr. Lindana Sastra Sp.A diawal perbincangan dengan Mom Dad and I di ruang prakteknya, RSIA Asih, Panglima Polim.

Umh, sayangnya, pada kenyataan banyak anak-anak yang senang minum minuman berbuih ini. Hal ini tidak terlepas dari pola hidup modern yang mau tidak mau  makin meningkatkan jumlah konsumsi soft drink. Tidak sedikit anak-anak, termasuk para balita yang telah kecanduan minuman ini dibandingan susu. Padahal, dibalik rasanya yang ‘menggelitik’ minuman yang satu ini mempunyai efek samping membahayakan. Terlebih pada anak-anak.

“Orang dewasa saja yang meminum soft drink tidak bagus karena efek sampingnya yang sangat buruk. Bagaimana jika diminum oleh anak-anak? Tentu tidak baik. Selain obesitas, soft drink bisa menyebabkan penyakit ginjal dan penyakit lainnya, ” ujar dr. Lindana lagi.

Seperti yang diungkapkan dr. Lindana, meskipun rasanya mengundang selera, dampak negative yang ditimbulkan soft drink memang terbilang banyak. Seperti yang dilansir dari artigen.com, lewat penelitian yang dilakukan Dr David S Ludwig serta rekan-rekan di Rumah Sakit Anak Boston, Massachusett, diketahui bahwa penyebab obesitas ini adalah pemanis yang terkandung dalam softdrink. Pemanis inilah, ulas Dr Ludwig, yang menjadi sumber utama tambahan gula. Dengan demikian, soft drink dapat meningkatkan resiko penyakit obesitas.

Bahkan, di Amerika Serikat, kasus penyakit obesitas akibat soft drink terus meningkat sejak tahun 1960 hingga saat ini. Angka yang cukup meningkat terjadi pada anak usia 6-11 tahun yang mencapai 54% dan 40% pada usia remaja. Sementara itu dari survey Departemen Pertanian AS diperoleh informasi, konsumsi minuman ringan memang cenderung meningkat tajam. Selama 50 tahun terakhir, konsumsi minuman ringan meningkat sampai 500%.

Selain menyebabkan obesitas, soft drink juga bisa menjadi pencetus timbulnya penyakit yang membahayakan lainnya. Sebut saja, diabetes, jantung bahkan kanker  pankreas. Seperti yang dilansir dari sebuah situs lewat studi soal efek minuman ringan bersoda, yang dipublikasikan ‘Cancer, Epidemiology, Biomarkers and Prevention’ yang mengungkapkan fakta mengerikan bahwa softdrink  orang yang minum soft drink setidaknya dua kali seminggu berisiko menderita kanker pankreas dua kali lipat.Para peneliti mengumpulkan data konsumsi soft drink, jus, dan nutrisi diet,  demikian juga data soal gaya hidup dan faktor lingkungan dari 60.524 orang warga Singapura keturunan China.
“Banyaknya resiko penyakit membahayakan yang ditimbulkan akibat soft drink  dikarenakan minuman tersebut hanya mengandung kadar gula yang tinggi, dan tidak memiliki kandungan nutrisi dan gizi sama sekali. Untuk itulah soft drink tidak baik dikonsumsi,” terang dokter berkulit putih ini.
Kandungan kalori yang tidak diperlukan untuk tubuh, juga terdapat dalam minuman soft drink. Dimana sebagian besar minuman soda mengandung 250 kalori per 600 ml. Tak ada kandungan nutrisi atau mineral di dalamnya, melainkan hanya gula dan kafein.
Sederet dampak negative akibat seringnya mengkonsumi soft drink masih banyak lagi. Salah satunya adalah timbulnya kecanduan atau adiktif. Mengapa? Hal tersebut dikarenakan adanya rangsangan akibat kandungan kafein di dalamnya. Jadi, jangan heran jika setelah berhenti dari kebiasaan minum soft drink, Anda akan mengalami gejala putus zat seperti sakit kepala, depresi, gugup atau menggigil.

Belum lagi, soft drinks sangat mempengaruhi pencernaan. Kadar kafein dan jumlah gula yang tinggi dapat menghentikan proses pencernaan. Ini artinya tubuh tidak menyerap gizi sama sekali dari makanan yang baru dimakan, bahkan yang sudah dimakan beberapa jam sebelumnya.

Lebih lanjut, dokter pria yang ramah ini mengatakan bahwa dampak negative yang ditimbulkan memang baru dirasakan dalam jangka waktu yang relative panjang. Hal inilah yang kerap disepelekan Mom and Dad, sehingga  meskipun dampak negative soft drink terbilang banyak, masih saja banyak orang tua yang memberikan soft drink pada buah hatinya

Kondisi  pola hidup yang tidak sehat dengan mejalankan olah raga rutin yang diterapkan Mom and Dad semakin memperburuk kondisi sehingga beragam ancaman membahayakan dapat membidik buah hati Anda. 

Meskipun terkesan sulit,  Dr. Lindana menganjurkan agar Mom and Dad perlahan untuk untuk menghilangkan kebiasaan mengkonsumsi soft drink. Caranya dengan mengganti soft drink dengan minuman lain yang jauh bermanfaat. Seperti yogurt dan susu. Nah, masih berpikir untuk memberikan soft drink pada si kecil?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar