Setengah tahun... - Adisty Titania

Sabtu, 13 November 2010

Setengah tahun...


Masih lekat dalam ingatan. Kurang lebih 6 bulan yang lalu, saya tengah merasakan sakit yang luar biasa. Yup, sakit dalam arti sebenarnya. Mulai badan lemes, perut pun rasanya nggak karuan; sakit, melilit, dan kembung. Umh, apa akibat terlalu banyak makan salah satu makanan favorit saya, rujak? Bukan... bukan... kali ini sakit perutnya benar-benar berbeda.

Malam hari sebelumnya, suhu badan saya juga panas tinggi yang mengakibatkan saya menggigil kedinginan. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, saya yang sering merasa kepanasan meskipun AC di kamar sudah nyala dan menunjukan angka paling rendah, 16 derajat celcius. Saat itu saya memonopoli bed cover dan memutuskan untuk mematikan AC.

Kondisi ini mau nggak mau, membuat swami khawatir. Maklum, waktu itu saya kan sedang hamil tua :D. Tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, swami pun menganjurkan untuk ke dokter. Tapi saya keukeuh suemekeh nggak mau pergi.
Kalau besok pagi masih kaya gini, baru ke dokter ya,” ujar saya sambil menggigil.
Alhamdulillah, pas bangun pagi, saya sudah merasa jauh lebih fit. Badan sudah lebih enteng. Perut yang sakitnya bukan kepalang, sampai membuat saya susah nafas pun, hilang seketika.
Nggak lama, saat masuk toilet, saya mendapati salah satu pertanda wanita yang akan melahirkan. Flek. Umh… nggak pikir panjang lagi, saya pun memberitahukan swami dan mama saya. Hanya dalam hitungan menit, atas inisiatif plus saran sang mama tercinta, kamipun memutuskan segera ke rumah sakit. Apalagi, saat saya mulai merasakan pipis yang tidak tidak terkontrol.
Wah, kamu sudah pecah ketuban. Sudah duduk aja, jangan banyak bergerak!” seru mama tersayang.

Setelah swami tercinta mampu membawa taksi (yang kondisi fisiknya sangat buruk rupa plus terlihat jorok) kami pun segera menuju RS Asih di bilangan Panglima Polim. Setelah kurang lebih satu jam melintasi kawasan pondok indah, alteri, pakubuono, dan mestik, kami pun sampai tujuan. Melihat wanita gendut yang tengah meringis kesakitan, suster yang ada di lobby dengan sigap menerima saya. 

Sus… saya sudah ngeflek dan berasa kontraksi,” terang saya.
“Oh, iya bu…Ibu masih sanggup jalankan?” jawab sang suster.
“Ya suster, masih” jawab saya lagi.

Nggak sampai lima menit, saya pun sudah berada di kamar bersalin. Dengan sigap sang suster pun segera memeriksa kondisi saya.
Masih pembukaan satu. Ibu juga sudah pecah ketuban. Kemungkinan bayinya sudah stess di dalam,” terang suster.

Waksss……! Baru pembukaan satu???? Pecah ketuban pula? Astaqfiruallah… Saya pun jadi teringat pengalaman dua teman saya yang belum lama melahirkan. Yang pertama, mengalami proses persalinan yang terbilang lama, padahal saat periksa ke dokter, sudah masuk pembukaan empat. Namun baru melahirkan hampir 24 jam kemudian. Sedangkan, teman saya yang satunya lagi, mengalami pecah ketuban sehingga menyebabkan anaknya keracunan. Akibatnya, anaknya harus dirawat 10 hari akibat meminum air ketuban. Dan saya? Baru pembukaan satu dan pecah ketuban. Apa yang akan terjadi nih? Astaqfiruallah…

“Tapi saya tetap bisa melahirkan normal kan suster?” tanya saya penuh cemas.
“Bisa, tapi kita cek dulu kondisi bayinya dulu ya bu…” jawab suster dengan kalem.

Rasa was-was pun mulai menyelimuti saya. “Bismillah, mudah-mudah-an semua baik-baik saja”, doa saya dalam hati. Ternyata, kondisi yang saya alami ini, mau tidak mau membuat dokter mengambil tindakan untuk melakukan induksi. Tentu, atas ijin swami tercinta terlebih dahulu.

“De, bantu ibu ya…kamu harus pintar mencari jalan keluar, supaya proses persalinan lancar. Terus cari jalan keluar ya, sayang. Kita sama-sama berjuang ya,” ucap saya pada jagoan kecil yang akan segera bisa saya gendong.

Satu menit… setengah jam…. satu jam.... dua jam… tiga jam... empat jam... 
tik tok tik tok. Siang itu, rasanya perputaran waktu begitu lambat. Untungnya, kontraksi yang saya rasakan kian menghebat dan segera membuahkan hasil.
Alhamdulillah…. Keinginan pupi, sebagai pertanda si jagoan akan keluar telah saya rasakan. Umh… nggak usah ditanya rasanya seperti apa. Nikmat dan mantab…. :D
Alhamdulillah, suami saya terus mendampingi dan mengingatkan untuk terus istiqfar. Tidak hanya istiqfar, semua surat kecil yang saya hafal pun terus saya baca. Sambil sesekali menahan sakit dan mengerang tentunya :D

“Bingung…kalau bisa membagi tenaga, pasti sudah aku kasih” ujar suami saya, saat ditanya apa yang ia rasakan saat itu.

Untungnya, saya sempat beberapa kali mengikuti senam hamil, sehingga membantu pernafasan. Jadi, jangan pernah berpikir kalau senam hamil itu tidak ada fungsinya! Alhamdulillah, kurang lebih empat jam menahan sakit, proses persalinan pun dimulai. Setelah tiga kali menarik nafas panjang dan mengejan, tepat pukul 15.39 seorang saya dan suami pun bisa menatap jagoan pertama kami. Seaorang bayi laki-laki keluar dari rahim saya, dengan berat 3,1 kg dan panjang 49 cm.
Subhanallah. Rasa sakit beberapa jam yang baru saja saya rasakan, tiba-tiba hilang bagai terbawa angin. Digantikan rasa bahagia dan takjub yang luar biasa. Saat mendengar tangisan kecilnya an menyentuh kulitnya yang halus, apalagi saat untuk pertama kalinya bayi mungil kami diletakan di dada saya…

Ahg…. Sulit rasanya untuk melukiskan rasa bahagia kala itu. Tidak berbeda jauh dengan rasa bahagia saya saat ini yang telah melihat pertumbuhan dan perkembangnnya. Ya, tidak terasa, kini jagoan yang kami beri nama Aqeel Bumi Adhikavi sudah memasuki usia enam bulan. Mudah-mudahan Bumi selalu sehat, panjang umur, menjadi anak sholeh, pintar, selalu dalam lindungan dan mendapat berkah dariNya, serta selalu menjadi seorang manusia yang membumi. Amien….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar