Adisty Titania

Minggu, 01 September 2019

Ajak Anak Nonton Film Gundala, Yay or Nay?

September 01, 2019 3
Ajak Anak Nonton Film Gundala, Yay or Nay?

"Aku sedih liat Sancaka, bu... bapaknya udah meninggal, eh, ibunya juga pergi. Dia jadi sendirian. Mau makan aja susah...."

Respon ini keluar dari mulut Bumi waktu kelar nonton Film Gundala.



Iya, awal film... ceritanya emang udah sedih banget. Bahkan buat #teammewek kaya gue ini langsung kray!

Bumi? Si anak bawel yang sensitif ini juga spontan bilang, "Aku sedih banget liat Sancaka...."

Salah satu temen, Angguni, juga ungkapin hal senada,

"Pas Sancaka kecil itu depressing banget, nontonnya aku sampai nahan napas sambil komat kamit doa, Ya Tuhan... Udahan dong kasih cobaan buat anak ini."

Ya, gimana nggak... Buat Sancaka kecil, dapat cobaannya bertubi-tubi banget. Sampai dia harus bertahan hidup di jalanan, dunia yang keras banget.

Sebenernya film Gundala ini ratingnya buat anak 13 tahun. Artinya, yang memang idealnya ini ditonton buat anak remaja. Bukan buat anak-anak.

Terus kenapa ngajak anak 9 tahun?


Awalnya memang sempet ragu buat ajak Bumi. Takut filmnya 'menyeramkan'. Banyak adegan sadis dan berdarah-darah macam Deadpool.

Tapi pas baca-baca berita, Joko Anwar sendiri bilang kalau adegan fighting film ini sengaja dibikin friendly, nggak ada darah. Jadi kalau anak-anak 13 tahun mau nonton bisa didampingi orangtua.

Tanya ke temen yang udah nonton duluan, katanya juga begitu. Buat anak usia 9 tahun kaya Bumi, masih bisa nonton. Ya, udah cuss... Jadilah kemarin nonton.

Jadi nggak sadis? Ya, nggak juga.


Bumi juga ngakuin kalau filmnya cukup sadis. Ada beberapa scene yang memperlihatkan adegan kekerasan yang dilakuin sama anak-anak.

Iya, anak-anak.

Ceritanya, tokoh antagonisnya, Pengkor, dibesarin di panti asuhan yang pengurusnya pada "gila". Untuk bertahan hidup... dia sampe harus ngajak temen-temennya untuk balas dendam. Nah, di sini deh yang rada serem.

Tapi adegannya nggak macam Film The Raid, kok. Nggak masuk kategori film gore yang visualnya banyak adegan berdarah-darah, menampilkan penyiksaan yang kejam dan memilukan.

Jadi kalau buat anak kecil, macam anak usia 5 atau 6 tahun, ya kurang cocok.

Ya, kalau katanya psikolog, film itu salah satu media yang mudah memengaruhi anak-anak. Apa yang dia liat, gampang banget nempel di otaknya.

Apalagi, usia anak-anak juga belum bisa membatasi mana yang sekadar khayalan dan kenyataan. Jadi memang mereka belum paham kalau film cuma sebatas karya fiksi. Alhasil mereka juga bisa terpapar efek negatif dari adegan kekerasan, sensual, termasuk kata-kata makian kasar yang ditampilkan dalam film.

Kalaupun kemarin gue berani ajak Bumi, ya, pertimbangannya karena gue percaya anak ini cukup kritis. Terbukti, hampir sepanjang film anak ini banyak banget tanya ini itu...

Keputusan ngajak anak buat nonton, sebenernya nggak terlepas balik lagi ke orangtuanya. value-nya kaya gimana.

Tapi di balik itu semua.... Di luar persoalan layak apa nggaknya Film Gundala ditonton anak, sebagai penikmat film Indonesia, gue salut banget sama film ini. Akhirnya, Indonesia punya super hero juga! Soal plot cerita, menurut gue juga cukup kuat, kok. Apalagi pemilihan pemainnya.

Abimana.... Ya, Tuhaaannn.....! Badannya cakep bangaaaaat!



Kamis, 08 Agustus 2019

Ketika Anak Preteen Mulai Bertanya Soal Pacaran dan Ciuman

Agustus 08, 2019 2
Ketika Anak Preteen Mulai Bertanya Soal Pacaran dan Ciuman
"Ibu.. Perempuan itu senang sama cowok kaya apa sih?" 
"Ibu, dulu seneng sama bapak, karena bapak ganteng?" 
"Bapak itu pacar ibu yang keberapa?" 
"Pacaran itu, harus sudah dewasa, ya?" 
"Ibu masih inget nggak pertama kali cium bapak kapan? Ibu deg degan nggak waktu dicium sama bapak?"



***

Yak! Si anak 9 tahun pertanyaannya udah makin kompleks!

Kira-kira, nih, kalau anak tiba-tiba nanya pertanyaan kaya gini, harus gimana?

Didiemin aja karena keburu pusing duluan? Atau jawab aja sekenanya....?

Ya, nggak dua-duanya, sih.... 😆😆😆

Gue inget banget, setiap kali wawancara sama psikolog, mereka selalu bilang, kalau anak tanya, ya, harus dijawab dengan bener, soalnya apa yang kita sampaikan ke anak pasti akan nempel.

Kalau bingung jawabnya? Ya tunda aja... Tapi pastikan harus kasih jawaban pada saat kita tau mau jelasin apa ke anak. Ya, anggep aja sebagai utang, gitu.

Hal ini tentu aja juga berlaku sama pendidikan seks.

Satu hal yang pasti, sebagai ibu, gue seneng banget saat Bumi berani tanya dan cerita ke ibunya. Dari sini gue jadi tau kalau Bumi cukup nyaman dan percaya ke ibunya.

Bilang apa? Alhamdulillah.... 🤲🤲🤲🤲

Sebenernya, pertanyaannya soal pacaran udah pernah Bumi tanyain. Bahkan dari dia zaman TK.

Iya, iya... anak zaman sekarang itu emang cepet gede dan jauh lebih kritis. Jadi, nggak perlu kaget kalau si anak TK sesekali ngomong kalau dia suka sama temennya. Plus tanya-tanya soal pacaran itu apa.

Setelah tanya ke psikolog, emang ini wajar kok. Bahkan dulu udah sempet gue tulis artikelnya di mommiesdaily.

Salah satu hal yang perlu diinget, kalau anak tanya sesuatu, misal soal pacaran itu apa, tanya balik dulu. Apa yang dipahami soal pacaran. "Menurut kamu, pacaran itu apa?"

Biar gimana, konsep pacaran yang dipikirin anak itu pasti akan berbeda sama kita. Jadi nggak perlu parno mikir yang nggak-nggak duluan.

Beruntung banget, udah sempet ngobrol sama Mbak  Vera Itabiliana soal ini. Pesennya, di sini kuncinya orangtua memang perlu membangun komunikasi yang baik.

Supaya bisa diskusi, termasuk soal seks dan pubertas kepada anak. Caranya jadi pendengar aktif. 


Katanya, "Intinya, ajak anak diskusi. Bukan kasih nasihan yang panjang lebar."

Jadilah, pas Bumi tanya-tanya soal pacaran, gue berusaha untuk jadi pendengar yang baik. Memposisikan diri jadi temennya.

Mungkin konsep pacaran yang dipahami Bumi pas TK dan sekarang ketika kelas 4 udah jauh beda. Lah wong, sekarang pertanyaannya aja udah makin detail dan rumit. Macam tanya, "Ibu masih inget nggak kapan dicium sama bapak?"

Gue sendiri kurang paham, kenapa Bumi bisa ngajuin pertanyaan kaya gini... Umh, kayanya sih, selain memang mulai naksir-naksiran, anak ini juga keingetan film Spiderman Far From Home.

Soalnya pas ngobrol kemarin, Bumi sempet bilang..."Bu... Aku tuh kok jadi kaya Spiderman, deh."

*Ehhh, gimana? Kaya Spiderman?* 🤔🤔🤔🤔

Karena nggak paham, ya, gue tanya balik... "Maksudnya kaya Spiderman, tuh, gimana?"

"Itu, loh, Bu...waktu ketemu sama Mary Jane, Spiderman kan tuh kaya akward gitu... Bingung. Aku tuh juga ngerasa kaya gitu....

Gue : "Ooooooooo.....iya...." 
*Ibu manggut-manggut*

Baiklah. Fix. Anak ini memang sudah masuk usia preteen. Ibu harus banyak bekelin diri. Biar gimana, tantangan punya anak preteen makin besar.

Salah satunya, ya, ini... Soal dampingin anak kenal dengan konsep pacaran. Mbak Vera bilang, kalau zaman sekarang ini orangtua memang nggak bisa nutup mata bawah anak-anak pra remaja sudah tahu apa itu pacaran. 

Tinggal kita sebagai orangtua perlu membicarakan batasannya seperti apa, dan kapan saat yang tepat anak berpacaran.

Sejauh ini, sih, gue bilang ke Bumi, kalau suka atau senang sama temennya, nggak apa. Itu perasaan yang sangat wajar. Terus, ceritain deh pengalaman pribadi. Baru masuk ke cerita kalau ibunya ini baru pacaran itu saat udah besar, sudah dewasa.

Berkaca dari Film Dua Garis Biru


Waktu ngobrol sama Bumi, gue jadi keingetan sama Film Dua Garis Biru. Film remaja yang belakangan ini lagi santer dibahas sama bu ibu, karena filmnya emang sebagus itu!

Selain film Posesif, film Dua Garis Biru jadi film yang perlu banget ditonton orangtua yang punya anak remaja. Bahkan, buat orangtua yang punya anak preteen kaya gue.

Nah, dari sekian banyaknya scene yang 'ngena' banget, selain di UKS tentunya, gue paling seneng scene saat Bima bantuin ibunya, Cut Mini, bungkusin kue di rumahnya.

Adegan di sini tuh, negesin banget kalau hubungan komunikasi dengan anak itu memang harus dibangun sedini mungkin. Penting bagi orangtua untuk bisa menciptakan kumunikasi yang 'hangat' supaya anak mau terbuka.

"Coba kita sering ngobrol kaya gini, ya, Bim.... "
"Kamu memang nggak pinter, tapi ibu tau kamu anak baik,"


Dialog ini bener-bener bikin gue kray....asli deh!

Di scene ini, ada dialog lain yang cukup nempel di kepala gue, saat Cut Mini bilang :

"Padahal, ibu dulu selalu tutup mata kamu lho, kalau ada adegan dewasa di film.”


Kemudian Bima jawab, “Memangnya, ayah sama ibu dulu harus liat film dulu baru bisa ciuman?”

Hahahaha, ya, bener juga sih. Ciuman inikan semacam dorongan alamiah, ya... Naluri aja, gitu.

Dialog ini juga bikin gue bertanya-tanya, jadi sebenernya perlu nggak sih, nutupin adegan ciuman saat anak nonton film? Misalnya, adegan saat Spiderman cium Mary Jane.

Soalnya, selama ini gue memang nggak pernah nutupin ke Bumi. Dengan catatan, memang ciumannya bukan yang 'gimana-gimana'.

Jadi gimana, perlu nggak nih, nutupin mata dan larang anak liat scene ciuman dalam film?


Waktu ngobrol sama Mbak Nadya Prameswari dari Rumah Dandelion, Mbak Nadya sih bilang, memang nggak perlu nutupin ke anak.

"Ya, ciuman, pelukan itu kan ekspresi kasih sayang... Nggak cuma pas di film, anak-anak kan juga bisa liat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat orangtuanya ciuman. Yang penting itu bukan boleh tidaknya. Tapi anak perlu paham, arti ciuman itu sendiri. Kalau anak nonton di dalam film, jelasin juga tentang aktornya itu main sebagai apa."

"Ya buat apa dilarang? Nanti malah anak penasaran, cari tau sendiri atau nonton sama temennya tanpa dapat penjelasan yang tepat. Apalagi kan anak kamu, Bumi, juga sudah masuk usia preteen kan...."

Ah, bener juga! Ngapain dilarang segala... Justru di sini deh, kesempatan jelasin ke anak. Apa artinya ciuman, siapa yang boleh melakukannya, dan kapan boleh melakukannya. Intinya sih, ini justru bisa dimanfaatin orangtua untuk menanamkan value dalam keluarga.

Di sini, gue juga semakin diingatkan bahwa emang penting punya relasi yang baik sama pasangan. Punya hubungan yang 'sehat' supaya anak juga bisa liat.

Kan, children see, children do.

Nggak cuma itu aja, sih, tentunya termasuk kasih tau soal konsep underwear rules ke anak.


Bahwa tubuhnya adalah milik dia seutuhnya. Jadi orang lain memang nggak boleh seenaknya liat atau nyentuh. Anak perlu paham kalau ada sentuhan yang baik dan nggak. Area mana yang boleh disentuh, mana yang nggak. Kalau merasa nggak nyaman? Ya berhak bilang nggak.

Sama satu lagi, sebagai orangtua to tentu aja perlu membangun kepercayaan anak. Gimana anak bisa percaya dan terbuka soal apa yang ia rasakan. Baik sedih, senang, kecewa ataupun takut. Dan ini sampai sekarang masih terus gue usahakan.


Kamis, 04 Juli 2019

Radika Paradise, Penginapan Modern di Kawasan Pantai Gunungkidul

Juli 04, 2019 0
Radika Paradise,  Penginapan Modern di Kawasan Pantai Gunungkidul
Bangunan rumah panggung bercat warna warni dengan design modern langsung menyambut kami saat memasuki kawasan penginapan Vila Radika Paradise, tempat kami menghabiskan satu malam di kawasan Gunungkidul.


Liburan ke Yogja kali ini kami memang sudah niat mau main ke pantai di daerah Gunungkidul. Terakhir ke Yogja tiga tahun lalu cuma sempat wisata ke Goa Pindul aja. Maklum, liburan waktu itu nggak lama. Plus memang ada jadwal mampir ke kampungnya simbah. Jadi wisatanya cuma gitu-gitu aja.

Jadilah tahun ini niat banget ngajak Bumi ke pantai di dearah Gunungkidul. Biar nggak terlalu capek, kami pun cari penginapan di sana. Lah wong jarak Greenhost tempat kita nginep di Yogja jauh banget ke Gunungkidul. Jaraknya kurang lebih 60 km, dengan waktu tempuh 2 jaman.

Kebayangkan gimana capeknya kalau bolak balik? Mana jalannya juga naik turun dan belok-belok. Kemarin aja Bumi sempet mual. Jadi, siap-siap aja bawa plastik dan minyak-minyakan yang bisa bantu untuk ngilangin mual.

Tapi tenaaang.... hampir sepanjang jalan, pemandangannya cakep, kok. Sisi kanan kiri banyak pohon dan bukit kapur. Jalanannya juga sudah bagus dan lebar.


Apalagi pas sampai penginapan dan main di pantainya. Capek tuh kayanya langsung ilang.

Jadi, pas mutusin mau nginep semalam di kawasan pantai Gunungkidul, gue sama Doni sempet bingung mau nginep di mana. Liat-liat traveloka, pegi pegi dan beberapa website sejenis akhirnya mutusin booking di salah satu cottage. Tapi akhirnya dibatalin pas liat Insragamnya Homepiness.

"Dis, liat deh... Kayanya menarik," Doni WhatsApp sambil nge-share link IG Homepiness.
"Wah, bagus nih, Mas... Nginep di sana aja, kali ya?!"


Setelah browsing, nyari tau soal Vila ini, akhirnya kami memutuskan untuk booking. Untungnya cottage sebelumnya masih bisa dicancel.

Jadi tuh, di sana ada beberapa tipe. Ada yang berupa dormitory atau asrama. Cocok buat yang liburannya berame-rame bareng temen atau keluarga besar, soalnya kapasitas must untuk 6 sampai 10 tamu.

Atau, mau pilih vila kaya yang kami pesan? Vila ini udah dilengkapin sama kolam renang pribadi. Cuma jangan berharap pool-nya gede ya...  memang cuma bisa buat main air aja. Bukan berenang yang serius. Mengingat tujuan ke sana buat main di pantai, anggep aja ini cuma bonus.

Sayangnya kami nggak kebagian Vila yang paling depan. Jadi pemandangannya nggak langsung ke laut, malah ke bangunan Vila lainnya.

Kalau memang mau ke sana, mending sih pastiin dulu dapet villa yang pemandangannya langsung ke arah laut.


Dari segi kamar, ukurannya cukup luas kok. Bahkan kami yang pesen 2 ekstra bed, masih banyak ruang kosong. Nggak sempit.
Satu ekstra bed harganya 125 ribu. Jadi satu Vila bisa buat satu keluarga, nampung 4 sampai 5 orang. Harganya juga udah termasuk sarapan. Lumayanlah yaaa...

Design interior kamarnya juga kece....
dengan atap ruangan kamar yang cukup tinggi. Bikin ruangan terlihat lebih luas dan bisa ngurangin hawa panas yang ada di daerah pantai. Cuma lampunya redup banget. Pas komentar, kata Mas yang anterin kita, memang sengaja kaya gitu.

"Yang nginep di sini banyakan pasangan muda, Bu...Kaya buat honeymoon gitu".

Hooo bhaique.


Vila Radika Paradise, Vila untuk keluarga?


Kalau ditanya Vila Radika Paradise ini cocok buat keluarga apa nggak...bisa iya, bisa juga nggak kali ya... tergantung usia anaknya juga. Soalnya untuk sampai ke Villa, perjalanannya lumayan... naik ke atas... Karena areanya memang di Bukit Tenggole.


Begitu sampai di Villa juga harus naik tangga dulu. Kemarin waktu Bumi diminta untuk bawa koper, doi sih akhirnya nyerah di tengah jalan dan akhirnya bapaknya juga yang bawa.

Soal makanan di restorannya juga terbatas. Cuma ada ayam bakar, ayam goreng, nasi goreng, sama mie goreng dan mie rebus. Mau pesen camilan macam roti dan pisang aja nggak ada. Dari segi harga juga masuk akal, paket nasi ayam bakar 25 ribuan.

Sementara menu sarapan bukan model prasmanan. Kalau nginep di Villa yang kaya kami pesan, sarapannya ayam goreng, nasi, lalapan dan sambal. Macem pecel ayam gitu, deh. Tapi potongan ayamnya minimalis. Tapi kemarin ada juga yang sarapannya dikasih nasi goreng.


Waktu sarapan sebenernya disediain juga potongan buah, roti tawar dan selai coklat. Sayangnya roti dan buahnya nggak direfil. Padahal kita sarapannya jam 8.30, lho.

Roti cuma kebagian selembar. Pas Bumi tanya ke mbaknya, katanya memang sudah habis. Nggak ada lagi. Setelah kita sarapan juga masih banyak yang baru datang, dan tanya soal si roti lagi.

IMHO, seharusnya kan pihak restoran udah bisa memprediksi berapa banyak tamu yang nginep hari itu, jadi bisa menyesuaikan stoknya.

Iya nggak, sih?

Tapi secara keseluruhan, nginep di sini menyenangkan kok. Pemandangannya cukup menyegarkan. Satu sisi bisa liat perbukitan jati khas Gunung Kidul. Satu sisi lagi bisa liat pantai. Kalau malem, jadi bisa denger deburan ombak dan liat kerlipan bintang.

Pemandangan kaya gini, mana bisa dinikmatin di Jakarta?

Dekat pantai Indrayanti dan Pok Tunggal


Dari sekian banyaknya pantai di Gunung Kidul, Vila Radika Paradise ini posisinya di antara pantai Indrayanti dan Pok Tunggal.

Kalau dari arah kedatangan, posisinya sebelum sama Pantai Indrayanti, dan jaraknya juga deket banget. Cuma 200 meter. Kalau ke naik mobil, nggak sampe 5 menit juga udah sampe. Mau jalan juga bisa.


Berhubung kemarin sampainya udah sore banget, untuk ngejar waktu kami memutuskan naik mobil.

Tapi sayang, pantai Indrayanti nggak secakep yang gue bayangin. Padahal kata temen yang orang Yogja, pantai ini dulunya kece. Hal yang menyedihkan lainnya, kemarin tuh pantainya udah rada kotor.

Mungkin karena pengunjungnya udah rame banget kali, ya? Banyak banget nemu sampah di pantainya. Huhuhu... Kenapa, sih, budaya buang sampah di tempat yang bener masih susah banget dilakuin?

Jadi lebih jatuh hati sama Pantai Pok Tunggal. Meskipun jaraknya dari jalan raya cukup jauh, hampir 2 km, tapi worthed banget.


Kalau kata Doni, "Biasanya apa yang sulit dicapai, hasilnya akan lebih bagus, Mas," pas jawab pertanyaan Bumi kenapa pantainya jauh. Dan ini terbukti, sih. View pemandangannya lebih asoy. Cuma memang, pantainya ini tipenya sama...di bibir pantai langsung karang.

Untungya model karangnya bukan yang tajam atau berlubang banyak celah.Jadi risiko melukai kaki tipis banget. Kecuali, main airnya emang nggak hati-hati aja.


Kemarin, sih, ngabisin waktu di sana hampir 2 jam, Bumi dan Kak Icha sempet protes. Katanya kurang lama. Yaah....mungkin jadi pertanda kalau jadwal mantai di Gunungkidul memang perlu diulang 😃