Adisty Titania

Rabu, 03 Juni 2020

9 Hal Penting Agar Menjalani The New Normal dengan 'Waras'

Juni 03, 2020 5
    9 Hal Penting Agar Menjalani The New Normal dengan 'Waras'
Wih, nggak berasa, tau-tau udah bulan Juni aja. Sudah pertengahan tahun, dan 3 bulannya cuma dihabiskan di rumah aja. Lebaran juga udah lewat hampir dua minggu. Kali ini ngerayain Hari Raya dengan rasa yang beda. Cuma bertigaan aja di rumah. Tanpa ngumpul, ngobrol dan makan bareng keluarga besar.



Lebaran kemarin, awalnya ngerasa, ‘Ah… pasti bisa ngelewatinnya. Meskipun nggak ngumpul di rumah enin aki ataupun mbah, tapi kan tetep bisa video call-an’.

Nyatanya, abis sholat ied yang kesiangan, baru berasa sedih. Tiba-tiba kangen keluarga.  Kangen memeluk dan dipeluk orang-orang terdekat. Ternyata rasanya senggak nyaman itu…

Apalagi sambil bayangin, gimana kondisi Lebaran tahun depan? Apa masih dijalanin dengan situasi yang sama? Apa anggota keluarga juga masih sehat semua seperti tahun ini? Hiks….



Ah, jangankan tahun depan. Besok aja nggak tau yang bakal terjadi seperti apa.

Dan sekarang, saatnya harus beradaptasi jalanin fase yang dinamain the new normal. Kondisi yang penuh dengan ketidakpastian dengan segala risikonya.

Mikirin hal-hal terlalu jauh emang sering kali nyiksa, sih. Kadang, jadi sering bersyukur juga kalau gue ini termasuk orang yang selow. Jalanin hidup lebih fokusnya untuk hari ini dulu. Besok, lusa, bulan atau pun tahun depan, ya, lihat aja nanti.

Cuma, ya, juga jangan sampai kebablasan. Seenggaknya semua memang harus imbang.

Sekarang, kalau ngomongin masalah the new normal, mau nggak mau, siap nggak siap, ya memang harus dijalanin. Meski rasanya nggak nyaman dan bikin cemas, tapi mau gimana? 

Mau dihindari? Mutusin untuk terus-terusan di rumah aja? Nggak melakukan aktivitas kaya semula? Harus berangkat ke kantor lagi, misalnya. Ya kan nggak bisa begitu juga….

Di tengah kecemasan karena belum siap jalanin the new normal, menanti-nanti keputusan kantor kapan harus balik kerja ke kantor lagi, beruntung juga kemarin dapet kesempatan jadi host Instagram live bersama psikiater, dr. Andri, SpKJ, FAPM. Paling nggak, bisa dapat ‘pencerahan’ dan lebih tau harus kaya gimana.

Ngobrol online selama satu jam ternyata banyak banget insight yang bisa didapetin. Sebenernya, sih, masih banyak banget yang mau ditanyain, apa daya durasinya memang terbatas.

Jadi, buat temen-temen, bu ibu yang sedang galau, dan khawatir jelang the new normal, ada beberapa poin penting yang perlu diingat dan dipahami. Yah, mudah-mudahan, dari sini jadi bisa lebih mudah beradaptasi.

Biar lebih memudahkan, dan supaya bisa lebih mudah dipahami, jadi poin pentingnya akan di-listing aja, ya…..

1. The New Normal bikin nggak nyaman

Sama kaya perasaan takut dan cemas, ngerasa nggak nyaman juga wajar banget kok.  Jangankan fase the new normal, perubahan situasi saat kita pertama kali masuk di kantor baru juga bisa bikin nggak nyaman.

Ketika mengubah kebiasaan pola hidup lebih sehat juga nggak nyaman. Baru mulai olahraga, nggak nyaman karena badan pegel. Baru mulai milih makan makanan sehat, bawaannya udah rindu sama mecin.

2. Merasa takut dan cemas nggak apa-apa, kok

Yes, menurut dokter Andri, sebelum bisa beradaptasi, menerima dan bisa jalanin the new normal secara legowo, wajar akan kalau merasa cemas atau takut. Ini merupakan bentuk perasaan atau emosi yang sangat wajar dirasain semua individu. Terutama ketika harus berhadapan dengan perubahan.

Nggak bisa tiba-tiba aja ngerasa, “Oh, ok. Gue baik-baik aja kalau kembali beraktivitas kaya semula.

3. Pahami ada tahapan yang perlu dirasakan sebelum bisa menerima the new normal

Jadi, sebelum bisa beradaptasi jalanin the new normal, ada beberapa tahapan yang umumnya akan kita rasain. Mulai dari denial, marah, kemudian bargaining, hingga akhirnya baru bisa menerima (acceptance).

Setiap orang, di sini skala waktunya memang bisa beda-beda. Bisa lama, bisa juga cepet.

4. Menyadari kalau realita tidak bisa kita ubah

Nah, salah satu yang penting untuk disadari kita memang harus bisa belajar nerima kalau realita, the new normal ini nggak bisa kita ubah. Ya harus dihadapi dan dijalani.

5. Pentingnya intervensi pikiran sendiri

Kalau realita nggak bisa kita ubah, lalu gimana? Ya, yang perlu diubah di sini justru mindset kita. Bagaimana kita perlu belajar untuk bisa mengintervensi pikiran kita sendiri.

Umumnya, kalau lagi ngerasain situasi yang nggak enak dan bikin nggak nyaman, bawaannya pengen mengubah semua. Pengen kondisi berubah sesuai apa yang kita mau. Tapi ini kan nggak mungkin.

Justru yang paling bisa kita ubah itu pikiran sendiri. Intervensi pikiran kita sendiri, dan cari tau apa, sih, yang bikin ganggu?

Ketakutan kita nggak akan mengubah realita. Realita nggak peduli sama ketakutan yang kita rasain. Saran dr. Andri, dalam menjalani the new normal ini kita memang harus rasional dan gunain logika.

6. Jangan overthinking

Siapa sih, yang bisa nebak kalau besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan depan akan seperti apa? Bisa ngalamin pandemi seperti sekarang sampai bisa mengubah perilaku seperti sekarang, siapa juga yang nyangka?

Jadi, menghadapi the new normal ini juga nggak perlu over thinking, mikirin gimana kalau begini atau begitu? Ya kalau nanti itu terjadi gimana, ya?

Kalau kata pakar dokter jiwa, hati hati sama pikiran, karena manusia justru sering tersiksa sama pikirannya sendiri.

Jadi, poin yang perlu digaris bawahi, untuk bisa menerima dan beradaptasi jalanain the new normal ini justru kita perlu siap dan menyadari kalau memang semua akan berubah. Kalau semua nggak sama lagi.

Seperti yang dokter Andri bilang, semua akan berpulang pada diri kita sendiri. Kita yang memiliki kemampuan untuk memikirkan apapun mengendalikan rasa cemas. Biar bagaimanapun kita tidak bisa menghindari kalau the normal ini memang harus dilalui.

7. Pentingnya melakukan aktivitas yang menyenangkan


Supaya nggak cemas berlebihan, jangan lupa untuk melakukan hal-hal yang bikin happy. Apalagi kalau sudah ngerasin gejala seperti jantung berdebar-debar, badan seperti goyang.

Menurut dr. Andri, ini memang tanda-tanda psikosomatik. Cemas yang berlebihan. Jadi, coba tenangkan diri. Lakukan apa saja yang bisa kita buat nyaman. Apa pun bisa dilakukan untuk bisa merasa nyaman. Soalnya, setiap orang ini tentu beda- beda untuk bisa menemukan rasa nyamannya. Ada yang senang baca buku, ada juga yang senang berkebun.

8. Kalau ‘terbentur’ jangan lupa untuk bangkit lagi

Jalanin the new normal jelas nggak mudah, selain harus bisa beradaptasi dengan segala perubahan, risiko untuk bisa ngalamin ‘benturan’ juga nggak bisa dihindari.

Jadi, keterampilan untuk bisa bangkit saat kita jatuh dan gagal perlu ada. Saat patah, kita perlu tumbuh lagi. Ini yang perlu kita lakukan. Balik lagi gimana bisa mengendalikan diri sendiri. Bukan ngendaliin orang lain, apa lagi lingkungan dan realita di depan mata.

9. Tetap punya tujuan

Saat pandemi dan jalanin the new normal ini banyak masyarakat yang kurang beruntung. Kehilangan mata pencaharian, bahkan mungkin kehilangan orang-orang yang disayangin. Setelah melewati beberapa fase seperti rasa marah, hingga akhirnya bisa menerima, jangan lupa untuk tetap memiliki tujuan.

Kata dokter Andri, lewati semuanya, karena yang terpenting tetap menjaga diri, jangan pernah putus asa dan memiliki tujuan dalam menjalani kehidupan ini.

Jadi gimana, udah pada siap belum jalanin the new normal?

Jumat, 22 Mei 2020

Ramadan 2020, Bulan Puasa yang Super

Mei 22, 2020 2
Ramadan 2020, Bulan Puasa yang Super
Ramadan tahun ini bener-bener super! Biasa sebulan penuh bareng di rumah terus sama Mas Bumi dan ibu," kata bapak.

"Iya, super good and bad," timpal Bumi lagi.

"Lho, kok, super good dan bad, kenapa?" jawab ibu yang penasaran.

"Ya, bad karena ada Virus Corona. Good, aku bisa buka puasa bareng terus sama ibu dan bapak. Bisa sering sholat jamaah. Biasanya kan bapak sama ibu pulangnya malem terus. Mana bisa buka puasa sama aku."

Huhuhuhu.... Maapin, ya, Mas Bumi 😢😢😢



***

Alhamdulillah... Di tengah pandemi Virus Corona, ternyata memang banyak hikmah yang bisa diambil, ya. Setidaknya buat kami, The Wahyudi's.

Awal Corona muncul dan harus work from home sih, sempet ngerasa ruwet banget. Pusing, bagi waktu antara beresin kerjaan, sama dampingin anak. Anak bolak balok tanya dan minta bantuin kerjain semua project dan work sheet-nya, sementara kerjaan kantor, kok, berasanya makin banyak.

Nggak kelar-kelar wooooiy. Belum lagi con call sehari bisa 3-4 kali.

Lalu aku ngeditnya kapaaaaaan????

Kondisi yang kaya gini akhirnya bikin nge-gass mulu ke Bumi. Berantem, deh. Syukur aja suami sigap banget. Tau sumbu sabar istrinya suka pendek, jadi sering banget turun tangan bantuin tugas Bumi. Malah, porsinya jauh lebih banyak 😅



Diam di rumah aja, ketemu selama 24 jam sama keluarga nyatanya nggak selalu bikin hubungan jadi mesra 😂😂😂, soalnya bisa sama-sama stress karena ngerasa overwhelmed.

Suatu waktu Bumi juga pernah bilang, "Aku mending ke sekolah aja, dimarahin Ms juga nggak apa. Tapi aku seneng bisa ketemu temen-temen aku."

Duh....sedih juga dengernya, sih. Dari sini bisa ketauan juga kalau Bumi emang jenuh. Kalau biasanya ada teteh Eli yang bisa diajak main sementara ibu dan bapaknya kerja, kali harus sendirian.



Rencana mau Lebaranan di rumah, teteh terpaksa pulang karena bapaknya meninggal....

😢😢😢

Work from home dua minggu, kondisi makin baik. Karena semuanya mulai bisa adaptasi.

Lalu Ramadan 2020 datang. 


Tahun ini memang harus dijalanin dengan cara yang beda. Bener-bener di rumah aja. Boro-boro bisa buka puasa bareng dan sholat taraweh di masjid. Semuanya bener-bener hanya berpusat di rumah.

Huhuhu... Aselik rindu pengen ketemu rang orang. Tapi kalau angka yang positif di Indonesia makin nambah terus, ya memang harus ditunda, sih.

Kesel banget pas denger berita banyak banget yang cuek bebek belanja ke mall buat beli baju. Belom lagi yang nekat mudik. Yawlooooh, aselik sedih banget.

Segitu egoisnya? Segitu kuatnya sampe nggak takut ketularan Corona? Nggak inget apa sama tenaga medis yang udah nahan kangen ketemu keluarga karena harus tanganin pasien? Belum lagi para dokter dan perawat yang akhirnya meninggal karena ketularan COVID-19.

Segitu susahnya, ya, tunda mudik? 😢😢😢😢

Dan sekarang tau-tau Ramadan 2020 udah mau lewat.

Rasanya ibadah belom maksimal, tapi udah mau Lebaran lagi.

Alhamdulillah, seluruh keluarga masih dalam kondisi sehat.

Kemarin, saking bosen dan kangen sama enin dan aki, sempet mampir ke Lebak Bulus. Tapi tetep aja nggak berani buat deket-deket. Jadi emang cuma mampir, bisa ngeliat langsung di teras. Abis itu juga mampir ke rumah mbah.

Aselik ya, pandemi COVID-19 ini memang mengubah semuanya.  Pola hidup lebih bersih, sampai kebiasaan lain yang akhirnya susah buat dilakukan lagi. Cium pipi kanan pipi kiri, pelukan, cium tangan, dan kebiasaan lainnya.

Nggak muluk-muluk, sekarang sih cuma berharap virus Corona ini cepet lenyap. Kangen mau beraktivitas normal kaya biasa.

Kangen ketemu orang-orang...kangen mau jalan-jalan.

Gara-gara Corona ini juga rencana mau liburan ke Labuan Bajo pertengahan Juli tahun ini jadi ambyar. Yaaah,  setidaknya ditunda sampe taon depan. Mudah-mudahan aja kondisinya udah balik kaya semula.

Eh, ya....19 Mei 2020 kemarin Bumi juga ulang tahun ke-10.

Selamat ulang tahun, Mas Bumi!




Udah bukan anak lagi. Tapi jadi remaja juga belom. Masih masa transisi pra-remaja.

Banyak doa yang dipanjatkan untuk Mas Bumi. Mudah2an selalu sehat, jadi anak sholeh, tambah kritis, dan moga2 aja harapan yang Mas Bumi ucapin saat tadi pas kita buka puasa bareng juga didengar dan dikabulin sama Allah.

Tadi, pas bahas syarat-syarat sholat ied di rumah minimal 4 orang, Mas Bumi bilang, "Yaaaah....coba aja aku punya adek. Meskipun mungkin sholatnya belum bener, tapi kan kita berempat."


Aamiin.....

Kamis, 05 Maret 2020

11 Fakta Penting, Mulai dari Personal Hygiene, Commond Cold, Flu, Hingga Virus Corona

Maret 05, 2020 2
11 Fakta Penting, Mulai dari Personal Hygiene, Commond Cold, Flu, Hingga Virus Corona

"Ibu.... aku udah bersin-bersin terus, nih. Pilek juga, aku besok nggak sekolah, ya?," ujar Bumi. 
"Loh, kenapa mesti nggak sekolah? Sekolah aja, ya, wong, cuma bersin doang..." jawab saya lagi. 
"Ya, kalau nularin ke temen aku gimana? Kan kasihan temen aku. Tapi bu, ini bukan virus corona kan, ya?"



Virus corona bikin geger banget, ya! Jadi inget, beberapa hari lalu ada temen yang posting di Instagram story-nya. Kasih lihat gimana panik anaknya yang masih umur 6 tahunan karena lagi sakit.

Iya, yang panik memang anaknya. Bukan temen saya, ibunya.

Pas ditanya sama temen saya, apa yang bikin panik dan nangis, anaknya langsung jawab, "Aku takut ketularan virus corona, buuuu....."

Duuuuuh...

Ngeliatnya jadi lucu...tapi sekaligus sedih. Ternyata kekhawatiran virus corona memang segitu besarnya, ya. Bahkan buat anak-anak!

Iyalah... gimana nggak?

Lah wong korbannya juga sudah puluhan ribu! Apalagi setelah di Indonesia sudah dinyatain ada korban yang positif kena virus mematikan ini.

Mengingat cara penularannya yang terbilang gampang,  nggak jauh beda jauh dengan penularan commond cold atau pun flu, memang tambah bikin was-was, sih.

Khususnya buat bu ibu macam saya ini.

Makanya, salah satu cara penting jaga kesehatan tubuh, dimulai dengan langkah yang cukup sederhana dulu. Menjaga personal hygiene. 

Kebetulan, beberapa hari lalu, saya diundang ke acara 'Jaga Kesehatan dan Lindungi Diri Secara Menyeluruh' yang digagas sama Betadine. Di acara ini, banyak fakta menarik yang terkait bagaimana pentingnya jaga kebersihan diri.

Nggak cuma ngomongin soal virus corona aja, sih... soalnya, penyebaran penyakit COVID19 ini kan kan sebenarnya mirip-mirip dengan penularan commond cold atau pun influenza. Jadi, memang saat di acara Betadine kemarin lebih banyak mengingatkan pentingnya personal hygiene. 

Kenapa?

Pada dasarnya, menjaga kesehatan, mencegah segala virus, ya, memang bisa dimulai dari hal yang paling mendasar. Memastikan kebersihan diri secara menyeluruh. Ini berlaku untuk pencegahan penyakit ringan semacam pilek, influenza, sampai COVID19.


Jadi fakta penting apa lagi, sih, yang perlu kita ketahui? Termasuk soal personal hygiene ini?

1. Mau terhindar dari beragam penyakit? Mulai dengan pastikan personal hygiene sudah baik. 

Mendengar kata personal hygiene, biasanya sih, yang langsung kepikiran soal bagaimana menjaga kebersihan organ intim. Bener nggak?

Padahal personal hygiene nggak cuma soal kesehatan organ intim aja, lho!

Personal hygiene ini berasal dari Bahasa Yunani. Personal artinya perorangan sedangkan Hygiene artinya Sehat, jadi personal hygiene bisa diartikan sebagai suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri (personal hygiene) agar terhindar dari penyakit .

Sadar akan hal ini, BETADINE® sebagai salah satu brand yang selalu aware dengan kesehatan masyarakan mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat dengan beragam produknya. Mulai dari Feminine Care Category, Protective Care Category, dan Upper Respiratory Tract Infection (URTI) Care Category,

Ketiga kategori produk ini diharapkan bisa bantu kita mencegah masalah kesehatan berkembang menjadi lebih serius,  karena memberikan perlindungan secara menyeluruh.

2. Nggak mau tertular kuman, virus dan teman-temannya? Pastikan setelah cuci tangan dikeringkan, ya!

Coba cek dan inget-inget, selama ini kalau habis cuci tangan ke toilet, langsung dikeringin nggak? Atau justru hanya diusap-usap ke baju? Atau malah dikepret-kepret aja? Iuuueeeh... jangan lagi, ya!

Faktanya, nih, tangan basah justru lebih mungkin menyebarkan 1000 kali kuman, dibandingkan tangan yang kering.

3. Jangan males mandi, minimal 2 kali dalam sehari

Departemen  Kesehatan sendiri sangat menyarankan kalau kita itu mandi, paling nggak dua kali sehari. Sabunnya pilih yang keset? No! ini justru yang harus diluruskan. Sabun yang baik dan bikin kulit sehat sebenarnya tidak ditandai dengan keset atau tidaknya, tapi sudah pasti perhatikan kandungannya.

4. Pilih sabun mandi yang tepat untuk jaga kulit tetap sehat

Jangan sampai ada harmful chemical seperti SLS (Sodium Lauryl Sulfate) yang banyak ditemukan di produk pembersih, dan produk kosmetik. SLS ini berisiko bkin iritasi pada kulit bahkan kerusakan pada mata.



Kandungan lainnya yang perlu dihindari lainnya paraben yang sayangnya masih sering ditemukan di produk personal care. Padahal, efeknya baaya banget, seperti  menyebabkan perubahan hormon, berpotensi memicu terjadinya kanker.

Jadi pilih sabun yang seperti apa? Tentu saja yang pH Balence yang disesuaikan dengan pH kulit area tubuh, dengan moisture balance  yang bantu bikin kulit lembab, dan satu lagi terbuat daru bahan alami yang ramah di kulit sehingga nggak bikin bahaya kulit ataupun kesehatan tubuh secara kesuluruhan.

5. Banyak penyakit yang tertular atau bermula dari tangan

Faktanya lagi, penyakit infeksi itu banyak banget yang berawal dari tangan. Mulai dari flu, HFMD, SARS, pilek, diare, Ebola, Mers, bahkan si Covid19.

Untuk mencegahnya, ya, jelas haru sering cuci tangan selama 20 detik dengan air mengalir dan sabun antiseptik setelah beraktivitas atau kontak dengan benda. Khususnya sebelum makan.

6. Anak-anak gampang banget terpapar virus

Dokter Spesialis Anak, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) menjelaskan, saluran pernapasan bagian atas, terutama pada anak merupakan organ tubuh yang paling mudah terpapar virus. Dibandingkan orang dewasa, anak kecil lebih mudah terserang virus karena sistem kekebalan tubuhnya yang belum sempurna.

7. Pilek dan flu jelas tidak sama, apalagi COVID19

Pilek (common cold) kerap disebut juga sebagai salesma. dr. Nastiti Kaswandi, Sp.A (K) bilang, anak balita bahkan bisa terkena pilek sebanyak 6-8 kali dalam satu tahun.

Padalah infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh virus.

Dari 100 jenis virus penyebab pilek, rhinovirus yang paling mudah menularkan pilek dan menyebabkan bersin. Sedangkan Influenza atau flu adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan keseluruhan. Mulai dari hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Pilek maupun flu, termasuk Covid19 merupakan penyakit yang bisa dirasakan siapa pun juga, lansia, dewasa, ibu hamil,  termasuk anak-anak dan bayi.

8. Gejala selesma hampir mirip dengan gejala flu

Meski gejalanya mirip, tapi dengan efek yang lebih ringan. Biasanya selesma menyebabkan hidung tersumbat, bersin, sakit tenggorokan, namun gejala-gejala ini terjadi secara perlahan. Sementara itu, flu dapat membuat sesak napas, sakit tenggorokan dan kepala, hingga menyerang otot.

9.  Menjemur anak di bawah sinar matahari tidak menyembuhkan pilek atau common cold pada anak

Nah, kalau anak sedang pilek, kita tuh sering banget denger untuk jemur anak di bawah sinar matahari. Memang bisa sembuh? Ternyata, pandangan ini juga perlu dilurusin, nih.

Dr. dr. Nastiti Kaswandi, Sp.A (K) bilang kalau Sinar matahari akan menyembuhkan pilek, itu merupakan suatu kekeliruan.

Katanya, "Sinar matahari hanya membantu meringankan gejala yang dirasakan. Vitamin D dari sinar matahari memang sangat bagus untuk kesehatan. Namun, tidak bisa juga dianggap bisa menyembuhkan pilek kalau memang infeksi penyebab virusnya masih ada”.

10.  Common cold nggak perlu obat, apalagi antibiotik!

Jadi kalau anak pilek apa dong obatnya? Tenang... anak pilek itu sebenarnya bisa sembuh sendiri, kok. Nggak perlu obat apalagi antibiotik!

Untuk mengatasi pilek yang diderita si kecil, berikut merupakan beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan menurut dokter Nastiti:
  • Kalau anak masih bayi, dan masih mengASIhi, ya pastikan untuk tetap menyusui. Pastikan kebutuhan ASI tercukupi. 
  • Untuk meningkatkan imunitas tubuh anak dengan memerhatikan nutrisi yang ia konsumsi. Pastikan asupan nutrisi terpenuhi agar gizinya tetap seimbang.
  • Jika ada, berikan anak vitamin.
  • Apabila anak menunjukkan gejala demam saat pilek, boleh juga diberikan obat penurun panas yang aman.
  • Pastikan anak terhidrasi dengan baik. Penuhi kebutuhan air mineral setiap harinya.
  • Simptomatis, artinya kurangi gejala yang timbul. Misalnya, saat demam berikan anak paracetamol.
  • Obat topikal pada hidung yang amanseperti normal saline (NaCl fisiologis) bisa diberikan.
  • Obat semprot hidung yang mengandung Iota Carrageenan dilaporkan melalui beberapa studi memberikan benefit terhadap infensi virus saluran pernapasan. Caranya, dengan mengikat dan menjebak virus di dalam rongga hidung seingga virus tidak dapat melekat pada mukosa dan bermultipikasi. Namun pemberian obat topikal ini memang baru bisa digunakan untuk anak di atas 1 tahun.
“Pilek tidak selalu diobati oleh antibiotik. Maka, kita sebagai orangtua perlu kritis. Jika dokter bilang penyakit disebabkan oleh virus tapi dia malah memberikan antibiotik, itu cara pengobatan yang salah. Antibiotik boleh digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri,” pungkas dokter Nastiti.

11. Salah satu upaya pencegahan common cold pada anak bisa menggunakan nasal spray




Kalau bingung cari produk nasal spray atau obat semprot hidung, saat ini Betadine punya produk baru dengan inovasi yang bisa diacungi jempol 'Betadine® Cold Defence Nasal Spray'. Soalnya, produk yang dibuat untuk saluran pernapasan bagian atas untuk bantu meredakan gejala pilek dan flu ini menggunakan  bahan alami Iota Carageenan dari rumput laut merah.

Nah, kalau melihat anak sudah mulai bersin-bersin, salah satu gejala commond cold, langsung aja gunain nasal spray ini. Misalnya, nih, setelah anak main di playgroup atau setelah jalan-jalan di mall, jadi ikut terpapar kena pilek.

Kebetulan, sekarang kan Bumi lagi bersin-bersin terus, nih, sudah dua hari pakai, hasilnya lumayan, sih. Yha, semoga aja sakitnya emang nggak berlanjut. Aamiin







Jumat, 03 Januari 2020

SehatQ, Sahabat Ibu Saat Sedang Risau

Januari 03, 2020 2
SehatQ, Sahabat Ibu Saat Sedang Risau
"Ibuuuuuu.... teteh muntahnya berdarah. Kenapa tuh, bu? Kasihan teteh..."
Mendengar teriakan Bumi, dari arah kamar mandi yang bilang teteh, mbak yang bantu di rumah muntah darah, saya yang lagi asik baca buku langsung ngibrit ke kamar mandi.

Eh, bener aja. Teteh muntah darah.

Jelas saya panik. Langsung kepikiran, 'Aduh, teteh sakit apa, nih, kok, bisa sampai muntah darah? Padahal semalam saya lihat baik-baik aja. Lha, wong baru pergi tahun baruan sama suaminya ...

"Teh... kenapa? salah makan? Teteh sakit apa? Demam nggak?"

"Iya, bu... semalam memang nggak enak badan. Kaya meriang gitu, tapi saya minum obat, enakan. Bisa tidur. Ini nggak tahu kenapa bisa begini" ujarnya dengan raut wajah yang begitu was-was.

Nggak usah nunggu lama, saya pun langsung minta teteh untuk jalan ke Puskesmas. Kebetulan, nggak jauh dari rumah ada Puskesmas. "Paling nggak, teteh bisa dapat penanganan awal dulu dari dokter," pikir saya.

Setelah hampir satu jam di Puskesmas, teteh pulang ke rumah. Dan dokter bilang kalau teteh itu gejala tipes. Selain itu juga ada faktor maag yang cukup akut yang dialami teteh.

"Tadi saya juga disuntik, Bu... katanya biar nggak muntah darah lagi."

"Ya udah teteh istirahat aja dulu. Jangan lupa makan, minum obat. tidur aja... nggak usah mikirin apa-apa dulu..." 
"Iya, bu.... saya mau tidur aja dulu, ya..."
*hampir 4 jam berselang*

"Ibuuuuuuu....."

Kali ini giliran teteh sendiri yang manggil saya dari arah kamar mandi.

"Duh, apa lagi, nih?" batin saya.

Ternyata begitu saya di pintu kamar mandi, saya tahu kalau teteh muntah darah (lagi).

Begitu, lihat saya langsung bilang ke suami yang kebetulan memang ada di rumah.

"Ya, udah kita ke Rumah Sakit aja, kalau perlu cek darah," kata suami.
Singkat cerita, kami pun langsung bawa teteh ke Rumah Sakit. Setelah ketemu dokter IGD, konsultasi, seperti dugaan sebelumnya teteh dirujuk untuk cek darah.

Alhamdulillahnya dari hasil cek darah, nggak ada yang mengkhawatirkan. Cuma dokter memang bilang, kalau muntah darah itu bisa disebabkan berbagai faktor, salah satunya, ya, karena lambung yang luka.

"Bisa jadi memang ada pembuluh darah yang luka, bu... jadi memang bisa menyebabkan muntah darah."

Duuuh.... ternyata sakit maag memang nggak bisa disepelekan, ya. Ya, apa pun penyakitnya, memang nggak bisa disepelekan.

Memanfaatkan Aplikasi Kesehatan SehatQ

Sebagai ibu yang suka panikan saat tahu anak atau anggota keluarga yang sakit, saya tuh merasa beruntung jadi ibu-ibu milenial di era teknologi kaya sekarang. Soalnya, mau dapetin informasi apa aja, tuh, mudah banget.

Mau nggak mau, teknologi ini juga udah bikin perilaku seseorang dalam perjalanan kesehatannya mulai berubah dan kian terpapar dengan info kesehatan. Tinggal ketik di Mbah Google, sekali klik, ratusan informasi juga bisa langsung didapetin.

PR besarnya, ya, kita aja yang harus pinter nyaring. Mana berita, artikel, atau data apa aja yang akurat. Jangan sampai juga percaya sama hoaks yang jelas-jelas bahaya banget. Hoaks bikin penyakit jadi jadi makin runyam.

Sayangnya, nih, lewat survei yang sempet dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2017, di Indonesia itu sering banget 'kemakan' berita hoax. Belum dicek kebenarannya, udah main disebar. Dan ternyata hoaks kesehatan di negara ini menempati urutan pertama yang paling banyak disebarkan.

Ngeri banget!

Padahal kalau dipikir-pikir, nggak susah kok, kalau kita mau cek kebenaran berita kesehatan. Bisa manfaatin aplikasi kesehatan yang sekarang ini udah mulai menjamur.

Salah satunya, SehatQ. Saya sendiri sebenernya udah cukup lama tahu soal aplikasi ini.

Jadi, platform SehatQ ini merupakan startup penyedia layanan kesehatan digital yang lahir November 2018 di bawah naungan Sinar Mas. Ya pada udah tahu dong, ya, sama Sinar Mas?

Nah, visi SehatQ ini mau menyediakan layanan end-to-end yang menjawab semua kebutuhan kesehatan. Semua artkel yang dipublish di SehatQ ini juga udah ditinjau sama tim dokter SehatQ, Jadi udah bisa dipastikan kalau informasinya akurat.

Takjubnya lagi, pas saya cari informasi terkait maag sebabkan muntah darah, artikel yang nongol itu langsung dari SehatQ.

Fitur Tanya Jawab SehatQ

Asiknya, nih, tim dokter juga sudah kerjasama dengan SehatQ juga bisa bantu kita untuk kasih ‘pencerahan’ lewat fitur tanya jawab dokter. Makanya, pas momen genting, was-was, bin khawatir soal kondisi kesehatan anggota keluarga, nggak perlu pikir panjang. Langsung keinget sama Aplikasi Kesehatan SehatQ.

Karena cukup penasaran dengan peristiwa yang baru dialami sama teteh, saya pun langsung gunain fitur tanya ke dokter. Dan, wow.... nggak sampai 5 menit, langsung ada dokter yang ngerespon. Namanya dr. Vina Liliana.

Jadilah saya pun langsung tanya-tanya terkait apa yang udah dialamin sama teteh.

Dari jawaban dokternya, saya sih sangat puas, ya. Jelas dan lugas. Bahkan dokternya juga sempat tanya, obat apa aja yang sudah diresepin sama dokternya, termasuk hasil lab-nya.

Berikut screen shoot obrolan sana dengan dr. Vina. Semoga kebaca, yha..... Kalau nggak, silakan langsung diklik biar jelas 😊





Jadi ngebayangin, kalau anak sendiri yang sakit, pasti merasa sangat terbantu kalau dokternya fast respon kaya begini. Bukan apa-apa, kadang kan di situasi tertentu, dokter anak bisa aja sulit dihubungi.

Lagipula, saya juga cukup paham kalau chatting sama dokter juga ada aturannya. Chatting dengan dokter, bukan berarti dokter langsung tau penyakitnya apa.

Biar gimana, dokter juga punya kode etik. Ngambil keputusan perlu dilakukan lewat pemeriksaan, dan penilaian yang teliti. dokter kan bukan cenayang yang bisa periksa pasien dari jarak jauh.

Artinya, fitur ini memang bukan berarti jadi pengganti dokter.

Jadi, tujuan manfaatin fitur Chat Dokter di Aplikasi SehatQ, semata-mata mau tau informasi yang akurat aja. Ibaratnya, kaya temen deket gitu…. Mau curhat sama yang kita percaya. Jadi bantu bikin hati jadi lega.

Cuma itu aja yang bisa didapetin dari platform SehatQ?


Ooooo, tentu saja nggak... Kalau kita memang butuh, bisa dengan mudah terhubung dengan fasilitas kesehatan, dengan fitur booking langsung sesuaikan dengan jadwal dokter yang dibutuhkan. Tinggal pilih, deh tuh. Ada ribuan dokter yang sudah kerjasama, termasuk ribuan fasilitas kesehatan di Indonesia.

Makanya, setelah memanfaatkan fitur chatting dengan dokter akan disarankan untuk melakukan konsultasi secara langsung. Caranya ya, tinggal gunain fitur Booking Dokter. Dari sana bisa bikin jadwal pertemuan secara langsung dengan dokter. Tinggal cari fitur dokter dan cari saja nama dokter yang sesuai. Kalau sudah, ya, tinggal klik.



Kurang apa, coba? Sok, atuh, langsung aja download aplikasi kesehatan SehatQ, bisa di Google Play Store atau Apple Store


Senin, 30 Desember 2019

A Decades of My Milestone, Perjalanan Selama 10 Tahun Terakhir

Desember 30, 2019 2
A Decades of My Milestone, Perjalanan Selama 10 Tahun Terakhir
Udah tanggal 30 Desember aja, nih. Besok udah penghujung tahun 2019, lusa udah tahun 2020.

Wooow... cepet banget waktu berlalu, yhaaa....

Tahun 2019 udah ngapain aja? Tahun depan, 2020 mau ngapain aja? Yang jelas, selama kurun waktu satu dekade ini, dibuka dengan rezeki yang luar biasa banget.


Kayanya, nggak ada salahnya, ya, kalau ngelist hal apa aja yang udah dicapai setiap tahunnya. Semacam milestone kehidupan satu dekade, gitu.


Yuk, deh, mulai satu persatu perjalanan satu dekade ini ada apa aja...


2010 : Dipercaya sama Allah untuk punya anak.  Tepatnya 19 Mei 2010 gue dan Doni terlahir sebagai orangtua.

2011 : Memutuskan nggak kerja di media, nyatanya emang ga cocok, tsaaay.... Akhirnya jadi freelancer. Kerjain apa yang bisa dijerjain.

2012 : ada apa yaaah.... Kok, lupa???

2013 : Setelah bertahun-tahun kerja di media pria dewasa, akhirnya pindah jalur. Kerja di media parenting, Mommiesdaily dan memutuskan pakai jilbab!

2014 : Kali pertama ngajak Bumi jalan-jalan ke pakai passport ke Singapore. Alhamdulillah gratisan karena memang undangan liputan.

Alhamdulillah bisa bikin buku meskipun nulisnya rame-rame bareng kontributor Mommiesdaily. Judul bukunya, 'Me Time, Memastikan Ibu Tetap Waras'.

2015 : Awal tahun, tau-tau ditinggal @nenglita yang memutuskan untuk pindah dari Mommiesdaily.

Keluarga besar liburan ke Bromo, happy banget!

2016 : Pusing cari uang buat renovasi rumah yang udah hampir mau rubuh karena kelamaan dianggurin. Memberanikan diri untuk pinjam uang buat renovasi rumah.

Cobaan terberat  juga dateng tahun ini juga, karena pas ulang tahun ke-6 Bumi operasi usus buntu dan langsung dihantem sama DBD. Ujung-ujungnya sampe ICU, di Rumah Sakit hampir 2 minggu.
Cerita soal ini sempet ditulis di Mommiesdaily, judulnya  Yang Saya Pelajari Saat Menemani Anak di ICU

2017 : Alhamdulillah... Rumah udah berbentuk karena memang renovasinya nyicil.

2018 :  Anak akuh makin gedeee.... Alhamdulillah pertengaan tahun 2018 sudah sunat!

Baca juga : Sunat Anak dengan Sedikit Drama, Kok Bisa?

Menjelang akhir tahun memberanikan diri keluar dari zona nyaman. Pindah ke rumah sendiri dan pindah kantor!

2019 : Setelah 5 tahun, akhirnya di awal tahun memutuskan untuk pindah 'rumah' dari Mommiesdaily ke theAsianparent. Ngerasa bener-bener cukup belajar di MD, alhamdulillah ternyata bener aja di theAsianparent jadi nemu pelajaran baru yang bikin lebih bergairah.

Liburan kenaikan kelas, alhamdulillah bisa roadtrip ke Yogyakarta. Tahun depan inhsaAllah mau ke Labuan Bajo karena dapet rezeki menang juara utama penulisan dari DKT Indonesia. Hadiahnya tiket PP utk 2 orang.

Maunya sih, tahun 2020 lebih bener soal finansial. Soalnya sampai sekarang seringnya kebablasan terus. Jajannya banyak banget!

Jadi, ini yang perlu dibenahin dulu. Pa lagi mimpi masih banyak banget. Mau ningkatin rumahlah, punya kontrakanlah, belom lagi urusan sekolah anak.

Punya anak ke-2? Kayanya urusan ini gue udah legowo, mungkin Allah juga tau kapasitas gue sebagai ibu. Dianggap belum mampu punya dua anak, mungkin?

Maunya sih, tahun depan juga bisa bikin buku. Meskipun masih ngawang-ngawang mau nulis apa, ya, segala sesuatu memang harus dimulai dari niat dulukan.

Untuk satu dekade ini, terima kasih atas naik dan turunnya. Terima kasih untuk rasa sedih, air mata, senyum sekaligus tawa yang sudah sempat hadir.

Minggu, 29 Desember 2019

Pertemanan Dewasa

Desember 29, 2019 2
Pertemanan Dewasa

"If you are not loosing friends, you're not growing up"



"Dis ...elo enak banget, sih, masih sering kumpul sama temen-temen gitu. Kalau liat, gue jadi ngerasa kaya anti sosial."

Beberapa waktu lalu ada temen yang ngomong kaya gini. Dengernya cuma bisa mesem-mesem.

Ya, gimana?

Kenyataannya, hari gini buat ngumpul sama temen-temen deket di waktu bersamaan emang peristiwa langka, kok.

Bahkan, ada kalanya gue pun suka iri pas kalau liat timeline, feed atau IGstory temen-temen yang sering ngumpul sama temen-temennya. Apalagi sampai punya waktu buat nginep dan liburan bareng.

Sementara akuh, mau makan bakso atau mie  aja ayam bareng aja susah bangaaaaat yawlooooh.... *Kraaaay*


Paham, sih, dalam ngejalanin hidup emang nggak boleh bandingin kehidupan kita sama orang lain. Selain bikin capek hati, ya, macem nggak bersyukur aja sama apa yang udah didapetin sekarang. *Nulis sambil ngaca*

Cuma sebagai seorang extrovert, yang merasa dapet energi kalau ketemu sama orang-orang terdekat, berasanya tuh sering kangen aja ngumpul sama temen-temen. Nggak mesti seminggu sekali, atau sebulan sekali, tiga bulan sekali aja udah seneng banget.

Tapi ya, gimana, mengingat sekarang bukan anak ABG yang kayanya bisa bebas wara wiri, ku juga cukup paham kalau udah jadi istri, ibu-ibu, anak dari orang tua, plus mantu, kayanya tuh emang kudu pinter-pinter bikin jadwal di akhir pekan. Belum lagi sama urusan domestik atau mood yang mager. Bawaannya mau selonjoran aja di rumah.

Plus mikirin soal bajet tentunya. Ya, biar gimana ngumpul-ngumpul itu kan juga perlu cuan. Buat bensin, buat bayar grabcar, plus buat jajan. Apalagi kalau buat liburan!

Sekarang, mah, urusan buat ngumpul, ketemu sama temen-temen udah pasti jadi nomer buntut. Nggak jadi prioritas. Bener, tho?

Banyak yang bilang, makin banyak angka usia yang sudah kita punya, ternyata juga akan pengaruh dengan jumlah temen yang makin berkurang. Inner circle-nya jadi cuma itu-itu aja.

Makin tua, sekarang memang milih temen (deket) jadi lebih selektif. Eh, bukan selektif.... Mungkin justru lebih ke seleksi alam. Kalau ternyata udah nggak ngeklik, ya, sudah. Temen yang bakal stay, ya, mungkin akan itu-itu aja.


Atau, mungkin memang sengaja mundur perlahan dari lingkar pertemanan yang dirasa udah ngerasa nggak cocok? Ya, nggak ada salahnya juga, sih.

Bahkan kalau mungkin kita yang ditinggalin temen-temen karena memang alasan di atas. Ya siapa tau kan? Kalau emang begitu, ya, sudah... nggak apa-apa juga.


Apalagi kalau alasanya demi kewarasan jiwa dan raga.

Eh, jadi inget omongan @nenglita, dalam sebuah hubungan, termasuk untuk pertemanan kan memang harus dijalanin sama-sama. Kalau yang satu udah nggak mau, ya, buat apa dipaksain.

Intinya, sih, pertemanan sekarang lebih bisa jadi lebih kompleks. Karena tiap orang udah punya prioritas yang beda-beda (banget), punya kepentingan sendiri, termasuk idealisme dan sudut pandang arti pertemanan itu sendiri kali, ya?

Kalau dulu bisa sering ketemuan, ha ha hi hi bareng, chatting tiap hari, sekarang intensitasnya jauh lebih berkurang.

Kenyataannya, kondisi pertemanan  dewasa kaya gini memang bisa dirasain siapa pun juga, sih. Bahkan di belahan dunia mana pun, kok.

Eh, apa salah? Gue doang yang ngerasain?