Adisty Titania

Kamis, 05 Maret 2020

11 Fakta Penting, Mulai dari Personal Hygiene, Commond Cold, Flu, Hingga Virus Corona

Maret 05, 2020 0
11 Fakta Penting, Mulai dari Personal Hygiene, Commond Cold, Flu, Hingga Virus Corona

"Ibu.... aku udah bersin-bersin terus, nih. Pilek juga, aku besok nggak sekolah, ya?," ujar Bumi. 
"Loh, kenapa mesti nggak sekolah? Sekolah aja, ya, wong, cuma bersin doang..." jawab saya lagi. 
"Ya, kalau nularin ke temen aku gimana? Kan kasihan temen aku. Tapi bu, ini bukan virus corona kan, ya?"



Virus corona bikin geger banget, ya! Jadi inget, beberapa hari lalu ada temen yang posting di Instagram story-nya. Kasih lihat gimana panik anaknya yang masih umur 6 tahunan karena lagi sakit.

Iya, yang panik memang anaknya. Bukan temen saya, ibunya.

Pas ditanya sama temen saya, apa yang bikin panik dan nangis, anaknya langsung jawab, "Aku takut ketularan virus corona, buuuu....."

Duuuuuh...

Ngeliatnya jadi lucu...tapi sekaligus sedih. Ternyata kekhawatiran virus corona memang segitu besarnya, ya. Bahkan buat anak-anak!

Iyalah... gimana nggak?

Lah wong korbannya juga sudah puluhan ribu! Apalagi setelah di Indonesia sudah dinyatain ada korban yang positif kena virus mematikan ini.

Mengingat cara penularannya yang terbilang gampang,  nggak jauh beda jauh dengan penularan commond cold atau pun flu, memang tambah bikin was-was, sih.

Khususnya buat bu ibu macam saya ini.

Makanya, salah satu cara penting jaga kesehatan tubuh, dimulai dengan langkah yang cukup sederhana dulu. Menjaga personal hygiene. 

Kebetulan, beberapa hari lalu, saya diundang ke acara 'Jaga Kesehatan dan Lindungi Diri Secara Menyeluruh' yang digagas sama Betadine. Di acara ini, banyak fakta menarik yang terkait bagaimana pentingnya jaga kebersihan diri.

Nggak cuma ngomongin soal virus corona aja, sih... soalnya, penyebaran penyakit COVID19 ini kan kan sebenarnya mirip-mirip dengan penularan commond cold atau pun influenza. Jadi, memang saat di acara Betadine kemarin lebih banyak mengingatkan pentingnya personal hygiene. 

Kenapa?

Pada dasarnya, menjaga kesehatan, mencegah segala virus, ya, memang bisa dimulai dari hal yang paling mendasar. Memastikan kebersihan diri secara menyeluruh. Ini berlaku untuk pencegahan penyakit ringan semacam pilek, influenza, sampai COVID19.


Jadi fakta penting apa lagi, sih, yang perlu kita ketahui? Termasuk soal personal hygiene ini?

1. Mau terhindar dari beragam penyakit? Mulai dengan pastikan personal hygiene sudah baik. 

Mendengar kata personal hygiene, biasanya sih, yang langsung kepikiran soal bagaimana menjaga kebersihan organ intim. Bener nggak?

Padahal personal hygiene nggak cuma soal kesehatan organ intim aja, lho!

Personal hygiene ini berasal dari Bahasa Yunani. Personal artinya perorangan sedangkan Hygiene artinya Sehat, jadi personal hygiene bisa diartikan sebagai suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan diri (personal hygiene) agar terhindar dari penyakit .

Sadar akan hal ini, BETADINE® sebagai salah satu brand yang selalu aware dengan kesehatan masyarakan mencoba memenuhi kebutuhan masyarakat dengan beragam produknya. Mulai dari Feminine Care Category, Protective Care Category, dan Upper Respiratory Tract Infection (URTI) Care Category,

Ketiga kategori produk ini diharapkan bisa bantu kita mencegah masalah kesehatan berkembang menjadi lebih serius,  karena memberikan perlindungan secara menyeluruh.

2. Nggak mau tertular kuman, virus dan teman-temannya? Pastikan setelah cuci tangan dikeringkan, ya!

Coba cek dan inget-inget, selama ini kalau habis cuci tangan ke toilet, langsung dikeringin nggak? Atau justru hanya diusap-usap ke baju? Atau malah dikepret-kepret aja? Iuuueeeh... jangan lagi, ya!

Faktanya, nih, tangan basah justru lebih mungkin menyebarkan 1000 kali kuman, dibandingkan tangan yang kering.

3. Jangan males mandi, minimal 2 kali dalam sehari

Departemen  Kesehatan sendiri sangat menyarankan kalau kita itu mandi, paling nggak dua kali sehari. Sabunnya pilih yang keset? No! ini justru yang harus diluruskan. Sabun yang baik dan bikin kulit sehat sebenarnya tidak ditandai dengan keset atau tidaknya, tapi sudah pasti perhatikan kandungannya.

4. Pilih sabun mandi yang tepat untuk jaga kulit tetap sehat

Jangan sampai ada harmful chemical seperti SLS (Sodium Lauryl Sulfate) yang banyak ditemukan di produk pembersih, dan produk kosmetik. SLS ini berisiko bkin iritasi pada kulit bahkan kerusakan pada mata.



Kandungan lainnya yang perlu dihindari lainnya paraben yang sayangnya masih sering ditemukan di produk personal care. Padahal, efeknya baaya banget, seperti  menyebabkan perubahan hormon, berpotensi memicu terjadinya kanker.

Jadi pilih sabun yang seperti apa? Tentu saja yang pH Balence yang disesuaikan dengan pH kulit area tubuh, dengan moisture balance  yang bantu bikin kulit lembab, dan satu lagi terbuat daru bahan alami yang ramah di kulit sehingga nggak bikin bahaya kulit ataupun kesehatan tubuh secara kesuluruhan.

5. Banyak penyakit yang tertular atau bermula dari tangan

Faktanya lagi, penyakit infeksi itu banyak banget yang berawal dari tangan. Mulai dari flu, HFMD, SARS, pilek, diare, Ebola, Mers, bahkan si Covid19.

Untuk mencegahnya, ya, jelas haru sering cuci tangan selama 20 detik dengan air mengalir dan sabun antiseptik setelah beraktivitas atau kontak dengan benda. Khususnya sebelum makan.

6. Anak-anak gampang banget terpapar virus

Dokter Spesialis Anak, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) menjelaskan, saluran pernapasan bagian atas, terutama pada anak merupakan organ tubuh yang paling mudah terpapar virus. Dibandingkan orang dewasa, anak kecil lebih mudah terserang virus karena sistem kekebalan tubuhnya yang belum sempurna.

7. Pilek dan flu jelas tidak sama, apalagi COVID19

Pilek (common cold) kerap disebut juga sebagai salesma. dr. Nastiti Kaswandi, Sp.A (K) bilang, anak balita bahkan bisa terkena pilek sebanyak 6-8 kali dalam satu tahun.

Padalah infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh virus.

Dari 100 jenis virus penyebab pilek, rhinovirus yang paling mudah menularkan pilek dan menyebabkan bersin. Sedangkan Influenza atau flu adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan keseluruhan. Mulai dari hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Pilek maupun flu, termasuk Covid19 merupakan penyakit yang bisa dirasakan siapa pun juga, lansia, dewasa, ibu hamil,  termasuk anak-anak dan bayi.

8. Gejala selesma hampir mirip dengan gejala flu

Meski gejalanya mirip, tapi dengan efek yang lebih ringan. Biasanya selesma menyebabkan hidung tersumbat, bersin, sakit tenggorokan, namun gejala-gejala ini terjadi secara perlahan. Sementara itu, flu dapat membuat sesak napas, sakit tenggorokan dan kepala, hingga menyerang otot.

9.  Menjemur anak di bawah sinar matahari tidak menyembuhkan pilek atau common cold pada anak

Nah, kalau anak sedang pilek, kita tuh sering banget denger untuk jemur anak di bawah sinar matahari. Memang bisa sembuh? Ternyata, pandangan ini juga perlu dilurusin, nih.

Dr. dr. Nastiti Kaswandi, Sp.A (K) bilang kalau Sinar matahari akan menyembuhkan pilek, itu merupakan suatu kekeliruan.

Katanya, "Sinar matahari hanya membantu meringankan gejala yang dirasakan. Vitamin D dari sinar matahari memang sangat bagus untuk kesehatan. Namun, tidak bisa juga dianggap bisa menyembuhkan pilek kalau memang infeksi penyebab virusnya masih ada”.

10.  Common cold nggak perlu obat, apalagi antibiotik!

Jadi kalau anak pilek apa dong obatnya? Tenang... anak pilek itu sebenarnya bisa sembuh sendiri, kok. Nggak perlu obat apalagi antibiotik!

Untuk mengatasi pilek yang diderita si kecil, berikut merupakan beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan menurut dokter Nastiti:
  • Kalau anak masih bayi, dan masih mengASIhi, ya pastikan untuk tetap menyusui. Pastikan kebutuhan ASI tercukupi. 
  • Untuk meningkatkan imunitas tubuh anak dengan memerhatikan nutrisi yang ia konsumsi. Pastikan asupan nutrisi terpenuhi agar gizinya tetap seimbang.
  • Jika ada, berikan anak vitamin.
  • Apabila anak menunjukkan gejala demam saat pilek, boleh juga diberikan obat penurun panas yang aman.
  • Pastikan anak terhidrasi dengan baik. Penuhi kebutuhan air mineral setiap harinya.
  • Simptomatis, artinya kurangi gejala yang timbul. Misalnya, saat demam berikan anak paracetamol.
  • Obat topikal pada hidung yang amanseperti normal saline (NaCl fisiologis) bisa diberikan.
  • Obat semprot hidung yang mengandung Iota Carrageenan dilaporkan melalui beberapa studi memberikan benefit terhadap infensi virus saluran pernapasan. Caranya, dengan mengikat dan menjebak virus di dalam rongga hidung seingga virus tidak dapat melekat pada mukosa dan bermultipikasi. Namun pemberian obat topikal ini memang baru bisa digunakan untuk anak di atas 1 tahun.
“Pilek tidak selalu diobati oleh antibiotik. Maka, kita sebagai orangtua perlu kritis. Jika dokter bilang penyakit disebabkan oleh virus tapi dia malah memberikan antibiotik, itu cara pengobatan yang salah. Antibiotik boleh digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri,” pungkas dokter Nastiti.

11. Salah satu upaya pencegahan common cold pada anak bisa menggunakan nasal spray




Kalau bingung cari produk nasal spray atau obat semprot hidung, saat ini Betadine punya produk baru dengan inovasi yang bisa diacungi jempol 'Betadine® Cold Defence Nasal Spray'. Soalnya, produk yang dibuat untuk saluran pernapasan bagian atas untuk bantu meredakan gejala pilek dan flu ini menggunakan  bahan alami Iota Carageenan dari rumput laut merah.

Nah, kalau melihat anak sudah mulai bersin-bersin, salah satu gejala commond cold, langsung aja gunain nasal spray ini. Misalnya, nih, setelah anak main di playgroup atau setelah jalan-jalan di mall, jadi ikut terpapar kena pilek.

Kebetulan, sekarang kan Bumi lagi bersin-bersin terus, nih, sudah dua hari pakai, hasilnya lumayan, sih. Yha, semoga aja sakitnya emang nggak berlanjut. Aamiin







Jumat, 03 Januari 2020

SehatQ, Sahabat Ibu Saat Sedang Risau

Januari 03, 2020 0
SehatQ, Sahabat Ibu Saat Sedang Risau
"Ibuuuuuu.... teteh muntahnya berdarah. Kenapa tuh, bu? Kasihan teteh..."
Mendengar teriakan Bumi, dari arah kamar mandi yang bilang teteh, mbak yang bantu di rumah muntah darah, saya yang lagi asik baca buku langsung ngibrit ke kamar mandi.

Eh, bener aja. Teteh muntah darah.

Jelas saya panik. Langsung kepikiran, 'Aduh, teteh sakit apa, nih, kok, bisa sampai muntah darah? Padahal semalam saya lihat baik-baik aja. Lha, wong baru pergi tahun baruan sama suaminya ...

"Teh... kenapa? salah makan? Teteh sakit apa? Demam nggak?"

"Iya, bu... semalam memang nggak enak badan. Kaya meriang gitu, tapi saya minum obat, enakan. Bisa tidur. Ini nggak tahu kenapa bisa begini" ujarnya dengan raut wajah yang begitu was-was.

Nggak usah nunggu lama, saya pun langsung minta teteh untuk jalan ke Puskesmas. Kebetulan, nggak jauh dari rumah ada Puskesmas. "Paling nggak, teteh bisa dapat penanganan awal dulu dari dokter," pikir saya.

Setelah hampir satu jam di Puskesmas, teteh pulang ke rumah. Dan dokter bilang kalau teteh itu gejala tipes. Selain itu juga ada faktor maag yang cukup akut yang dialami teteh.

"Tadi saya juga disuntik, Bu... katanya biar nggak muntah darah lagi."

"Ya udah teteh istirahat aja dulu. Jangan lupa makan, minum obat. tidur aja... nggak usah mikirin apa-apa dulu..." 
"Iya, bu.... saya mau tidur aja dulu, ya..."
*hampir 4 jam berselang*

"Ibuuuuuuu....."

Kali ini giliran teteh sendiri yang manggil saya dari arah kamar mandi.

"Duh, apa lagi, nih?" batin saya.

Ternyata begitu saya di pintu kamar mandi, saya tahu kalau teteh muntah darah (lagi).

Begitu, lihat saya langsung bilang ke suami yang kebetulan memang ada di rumah.

"Ya, udah kita ke Rumah Sakit aja, kalau perlu cek darah," kata suami.
Singkat cerita, kami pun langsung bawa teteh ke Rumah Sakit. Setelah ketemu dokter IGD, konsultasi, seperti dugaan sebelumnya teteh dirujuk untuk cek darah.

Alhamdulillahnya dari hasil cek darah, nggak ada yang mengkhawatirkan. Cuma dokter memang bilang, kalau muntah darah itu bisa disebabkan berbagai faktor, salah satunya, ya, karena lambung yang luka.

"Bisa jadi memang ada pembuluh darah yang luka, bu... jadi memang bisa menyebabkan muntah darah."

Duuuh.... ternyata sakit maag memang nggak bisa disepelekan, ya. Ya, apa pun penyakitnya, memang nggak bisa disepelekan.

Memanfaatkan Aplikasi Kesehatan SehatQ

Sebagai ibu yang suka panikan saat tahu anak atau anggota keluarga yang sakit, saya tuh merasa beruntung jadi ibu-ibu milenial di era teknologi kaya sekarang. Soalnya, mau dapetin informasi apa aja, tuh, mudah banget.

Mau nggak mau, teknologi ini juga udah bikin perilaku seseorang dalam perjalanan kesehatannya mulai berubah dan kian terpapar dengan info kesehatan. Tinggal ketik di Mbah Google, sekali klik, ratusan informasi juga bisa langsung didapetin.

PR besarnya, ya, kita aja yang harus pinter nyaring. Mana berita, artikel, atau data apa aja yang akurat. Jangan sampai juga percaya sama hoaks yang jelas-jelas bahaya banget. Hoaks bikin penyakit jadi jadi makin runyam.

Sayangnya, nih, lewat survei yang sempet dilakukan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2017, di Indonesia itu sering banget 'kemakan' berita hoax. Belum dicek kebenarannya, udah main disebar. Dan ternyata hoaks kesehatan di negara ini menempati urutan pertama yang paling banyak disebarkan.

Ngeri banget!

Padahal kalau dipikir-pikir, nggak susah kok, kalau kita mau cek kebenaran berita kesehatan. Bisa manfaatin aplikasi kesehatan yang sekarang ini udah mulai menjamur.

Salah satunya, SehatQ. Saya sendiri sebenernya udah cukup lama tahu soal aplikasi ini.

Jadi, platform SehatQ ini merupakan startup penyedia layanan kesehatan digital yang lahir November 2018 di bawah naungan Sinar Mas. Ya pada udah tahu dong, ya, sama Sinar Mas?

Nah, visi SehatQ ini mau menyediakan layanan end-to-end yang menjawab semua kebutuhan kesehatan. Semua artkel yang dipublish di SehatQ ini juga udah ditinjau sama tim dokter SehatQ, Jadi udah bisa dipastikan kalau informasinya akurat.

Takjubnya lagi, pas saya cari informasi terkait maag sebabkan muntah darah, artikel yang nongol itu langsung dari SehatQ.

Fitur Tanya Jawab SehatQ

Asiknya, nih, tim dokter juga sudah kerjasama dengan SehatQ juga bisa bantu kita untuk kasih ‘pencerahan’ lewat fitur tanya jawab dokter. Makanya, pas momen genting, was-was, bin khawatir soal kondisi kesehatan anggota keluarga, nggak perlu pikir panjang. Langsung keinget sama Aplikasi Kesehatan SehatQ.

Karena cukup penasaran dengan peristiwa yang baru dialami sama teteh, saya pun langsung gunain fitur tanya ke dokter. Dan, wow.... nggak sampai 5 menit, langsung ada dokter yang ngerespon. Namanya dr. Vina Liliana.

Jadilah saya pun langsung tanya-tanya terkait apa yang udah dialamin sama teteh.

Dari jawaban dokternya, saya sih sangat puas, ya. Jelas dan lugas. Bahkan dokternya juga sempat tanya, obat apa aja yang sudah diresepin sama dokternya, termasuk hasil lab-nya.

Berikut screen shoot obrolan sana dengan dr. Vina. Semoga kebaca, yha..... Kalau nggak, silakan langsung diklik biar jelas 😊





Jadi ngebayangin, kalau anak sendiri yang sakit, pasti merasa sangat terbantu kalau dokternya fast respon kaya begini. Bukan apa-apa, kadang kan di situasi tertentu, dokter anak bisa aja sulit dihubungi.

Lagipula, saya juga cukup paham kalau chatting sama dokter juga ada aturannya. Chatting dengan dokter, bukan berarti dokter langsung tau penyakitnya apa.

Biar gimana, dokter juga punya kode etik. Ngambil keputusan perlu dilakukan lewat pemeriksaan, dan penilaian yang teliti. dokter kan bukan cenayang yang bisa periksa pasien dari jarak jauh.

Artinya, fitur ini memang bukan berarti jadi pengganti dokter.

Jadi, tujuan manfaatin fitur Chat Dokter di Aplikasi SehatQ, semata-mata mau tau informasi yang akurat aja. Ibaratnya, kaya temen deket gitu…. Mau curhat sama yang kita percaya. Jadi bantu bikin hati jadi lega.

Cuma itu aja yang bisa didapetin dari platform SehatQ?


Ooooo, tentu saja nggak... Kalau kita memang butuh, bisa dengan mudah terhubung dengan fasilitas kesehatan, dengan fitur booking langsung sesuaikan dengan jadwal dokter yang dibutuhkan. Tinggal pilih, deh tuh. Ada ribuan dokter yang sudah kerjasama, termasuk ribuan fasilitas kesehatan di Indonesia.

Makanya, setelah memanfaatkan fitur chatting dengan dokter akan disarankan untuk melakukan konsultasi secara langsung. Caranya ya, tinggal gunain fitur Booking Dokter. Dari sana bisa bikin jadwal pertemuan secara langsung dengan dokter. Tinggal cari fitur dokter dan cari saja nama dokter yang sesuai. Kalau sudah, ya, tinggal klik.



Kurang apa, coba? Sok, atuh, langsung aja download aplikasi kesehatan SehatQ, bisa di Google Play Store atau Apple Store


Senin, 30 Desember 2019

A Decades of My Milestone, Perjalanan Selama 10 Tahun Terakhir

Desember 30, 2019 0
A Decades of My Milestone, Perjalanan Selama 10 Tahun Terakhir
Udah tanggal 30 Desember aja, nih. Besok udah penghujung tahun 2019, lusa udah tahun 2020.

Wooow... cepet banget waktu berlalu, yhaaa....

Tahun 2019 udah ngapain aja? Tahun depan, 2020 mau ngapain aja? Yang jelas, selama kurun waktu satu dekade ini, dibuka dengan rezeki yang luar biasa banget.


Kayanya, nggak ada salahnya, ya, kalau ngelist hal apa aja yang udah dicapai setiap tahunnya. Semacam milestone kehidupan satu dekade, gitu.


Yuk, deh, mulai satu persatu perjalanan satu dekade ini ada apa aja...


2010 : Dipercaya sama Allah untuk punya anak.  Tepatnya 19 Mei 2010 gue dan Doni terlahir sebagai orangtua.

2011 : Memutuskan nggak kerja di media, nyatanya emang ga cocok, tsaaay.... Akhirnya jadi freelancer. Kerjain apa yang bisa dijerjain.

2012 : ada apa yaaah.... Kok, lupa???

2013 : Setelah bertahun-tahun kerja di media pria dewasa, akhirnya pindah jalur. Kerja di media parenting, Mommiesdaily dan memutuskan pakai jilbab!

2014 : Kali pertama ngajak Bumi jalan-jalan ke pakai passport ke Singapore. Alhamdulillah gratisan karena memang undangan liputan.

Alhamdulillah bisa bikin buku meskipun nulisnya rame-rame bareng kontributor Mommiesdaily. Judul bukunya, 'Me Time, Memastikan Ibu Tetap Waras'.

2015 : Awal tahun, tau-tau ditinggal @nenglita yang memutuskan untuk pindah dari Mommiesdaily.

Keluarga besar liburan ke Bromo, happy banget!

2016 : Pusing cari uang buat renovasi rumah yang udah hampir mau rubuh karena kelamaan dianggurin. Memberanikan diri untuk pinjam uang buat renovasi rumah.

Cobaan terberat  juga dateng tahun ini juga, karena pas ulang tahun ke-6 Bumi operasi usus buntu dan langsung dihantem sama DBD. Ujung-ujungnya sampe ICU, di Rumah Sakit hampir 2 minggu.
Cerita soal ini sempet ditulis di Mommiesdaily, judulnya  Yang Saya Pelajari Saat Menemani Anak di ICU

2017 : Alhamdulillah... Rumah udah berbentuk karena memang renovasinya nyicil.

2018 :  Anak akuh makin gedeee.... Alhamdulillah pertengaan tahun 2018 sudah sunat!

Baca juga : Sunat Anak dengan Sedikit Drama, Kok Bisa?

Menjelang akhir tahun memberanikan diri keluar dari zona nyaman. Pindah ke rumah sendiri dan pindah kantor!

2019 : Setelah 5 tahun, akhirnya di awal tahun memutuskan untuk pindah 'rumah' dari Mommiesdaily ke theAsianparent. Ngerasa bener-bener cukup belajar di MD, alhamdulillah ternyata bener aja di theAsianparent jadi nemu pelajaran baru yang bikin lebih bergairah.

Liburan kenaikan kelas, alhamdulillah bisa roadtrip ke Yogyakarta. Tahun depan inhsaAllah mau ke Labuan Bajo karena dapet rezeki menang juara utama penulisan dari DKT Indonesia. Hadiahnya tiket PP utk 2 orang.

Maunya sih, tahun 2020 lebih bener soal finansial. Soalnya sampai sekarang seringnya kebablasan terus. Jajannya banyak banget!

Jadi, ini yang perlu dibenahin dulu. Pa lagi mimpi masih banyak banget. Mau ningkatin rumahlah, punya kontrakanlah, belom lagi urusan sekolah anak.

Punya anak ke-2? Kayanya urusan ini gue udah legowo, mungkin Allah juga tau kapasitas gue sebagai ibu. Dianggap belum mampu punya dua anak, mungkin?

Maunya sih, tahun depan juga bisa bikin buku. Meskipun masih ngawang-ngawang mau nulis apa, ya, segala sesuatu memang harus dimulai dari niat dulukan.

Untuk satu dekade ini, terima kasih atas naik dan turunnya. Terima kasih untuk rasa sedih, air mata, senyum sekaligus tawa yang sudah sempat hadir.

Minggu, 29 Desember 2019

Pertemanan Dewasa

Desember 29, 2019 0
Pertemanan Dewasa

"If you are not loosing friends, you're not growing up"



"Dis ...elo enak banget, sih, masih sering kumpul sama temen-temen gitu. Kalau liat, gue jadi ngerasa kaya anti sosial."

Beberapa waktu lalu ada temen yang ngomong kaya gini. Dengernya cuma bisa mesem-mesem.

Ya, gimana?

Kenyataannya, hari gini buat ngumpul sama temen-temen deket di waktu bersamaan emang peristiwa langka, kok.

Bahkan, ada kalanya gue pun suka iri pas kalau liat timeline, feed atau IGstory temen-temen yang sering ngumpul sama temen-temennya. Apalagi sampai punya waktu buat nginep dan liburan bareng.

Sementara akuh, mau makan bakso atau mie  aja ayam bareng aja susah bangaaaaat yawlooooh.... *Kraaaay*


Paham, sih, dalam ngejalanin hidup emang nggak boleh bandingin kehidupan kita sama orang lain. Selain bikin capek hati, ya, macem nggak bersyukur aja sama apa yang udah didapetin sekarang. *Nulis sambil ngaca*

Cuma sebagai seorang extrovert, yang merasa dapet energi kalau ketemu sama orang-orang terdekat, berasanya tuh sering kangen aja ngumpul sama temen-temen. Nggak mesti seminggu sekali, atau sebulan sekali, tiga bulan sekali aja udah seneng banget.

Tapi ya, gimana, mengingat sekarang bukan anak ABG yang kayanya bisa bebas wara wiri, ku juga cukup paham kalau udah jadi istri, ibu-ibu, anak dari orang tua, plus mantu, kayanya tuh emang kudu pinter-pinter bikin jadwal di akhir pekan. Belum lagi sama urusan domestik atau mood yang mager. Bawaannya mau selonjoran aja di rumah.

Plus mikirin soal bajet tentunya. Ya, biar gimana ngumpul-ngumpul itu kan juga perlu cuan. Buat bensin, buat bayar grabcar, plus buat jajan. Apalagi kalau buat liburan!

Sekarang, mah, urusan buat ngumpul, ketemu sama temen-temen udah pasti jadi nomer buntut. Nggak jadi prioritas. Bener, tho?

Banyak yang bilang, makin banyak angka usia yang sudah kita punya, ternyata juga akan pengaruh dengan jumlah temen yang makin berkurang. Inner circle-nya jadi cuma itu-itu aja.

Makin tua, sekarang memang milih temen (deket) jadi lebih selektif. Eh, bukan selektif.... Mungkin justru lebih ke seleksi alam. Kalau ternyata udah nggak ngeklik, ya, sudah. Temen yang bakal stay, ya, mungkin akan itu-itu aja.


Atau, mungkin memang sengaja mundur perlahan dari lingkar pertemanan yang dirasa udah ngerasa nggak cocok? Ya, nggak ada salahnya juga, sih.

Bahkan kalau mungkin kita yang ditinggalin temen-temen karena memang alasan di atas. Ya siapa tau kan? Kalau emang begitu, ya, sudah... nggak apa-apa juga.


Apalagi kalau alasanya demi kewarasan jiwa dan raga.

Eh, jadi inget omongan @nenglita, dalam sebuah hubungan, termasuk untuk pertemanan kan memang harus dijalanin sama-sama. Kalau yang satu udah nggak mau, ya, buat apa dipaksain.

Intinya, sih, pertemanan sekarang lebih bisa jadi lebih kompleks. Karena tiap orang udah punya prioritas yang beda-beda (banget), punya kepentingan sendiri, termasuk idealisme dan sudut pandang arti pertemanan itu sendiri kali, ya?

Kalau dulu bisa sering ketemuan, ha ha hi hi bareng, chatting tiap hari, sekarang intensitasnya jauh lebih berkurang.

Kenyataannya, kondisi pertemanan  dewasa kaya gini memang bisa dirasain siapa pun juga, sih. Bahkan di belahan dunia mana pun, kok.

Eh, apa salah? Gue doang yang ngerasain?

Sabtu, 14 Desember 2019

Resolusi 2020: Mau Hidup Sehat dan Bahagia Sampai Tua

Desember 14, 2019 2
Resolusi 2020: Mau Hidup Sehat dan Bahagia Sampai Tua
"Dis....temen aku ada yang meninggal. Dadakan banget. Sebelumnya dia lagi main sama anaknya, tapi tiba-tiba ngerasa nggak enak badan. Nyesek. Nggak ketolong."
Beberapa waktu lalu, suami kehilangan salah satu rekan kerjanya. Meskipun nggak terlalu kenal, dengernya nyess banget.

Kebayang gimana istrinya. Diusia yang masih muda, sudah ditinggal suami dengan cara yang begitu mendadak. Mau nggak mau, harus lanjutin hidup dan ngurusin anak yang masih batita sendirian.

Peristiwa kaya gini, mungkin udah cukup familiar, ya. Tiba-tiba aja denger kabar duka kepulangan temen, sahabat, saudara, atau bahkan pasangan sendiri? Ngebayanginnya aja udah bikin jantung mencelos.

Paham, kalau umur memang jadi rahasia-Nya. Tapi paling nggak, lewat peristiwa kaya gini seharusnya bikin jadi lebih mawas diri. Khususnya soal kesehatan.

Sejak resmi menyandang status jadi orangtua, mau nggak mau pola hidup memang harus diubah. Biar gimana, ada satu doa yang nggak pernah putus dan lupa untuk terus dipanjatkan.


Mudah-mudahan Allah kasih izin saya dan suami untuk bisa terus dampingin Bumi.
Bisa ngeliat dia lulus sekolah, punya gelar, kerja, punya kontribusi buat lingkungannya, nikah, punya anak... Bisa lihat Bumi tumbuh besar, sehat dan bahagia, tentunya saya dan suami pun harus sehat.

Ya, jangan sampai sih menua dengan kondisi sakit-sakitan. Nggak mau juga sampai nyusahin anak atau keluarga. Ngebayangin bisa temenin cucu main di taman, main perang-perangan, role play atau sekadar temenin beli es krim di akhir pekan, kok, kayanya bahagia banget, ya?

Mungkin kelihatannya sangat sederhana, ya? Tapi buat mencapainya tentu aja nggak mudah.

Supaya semuanya bisa terwujud, ya, salah satu kuncinya tentu aja perlu dimulai dengan pola hidup sehat dulu. Terus sekarang pola hidupnya udah bener? Ya, jelas aja belom. Masih jauh dari kata sempurna.

Makanya, nih, di penghujung tahun 2019, resolusi tahun depan nggak mau muluk-muluk. Paling utama, ya, benerin aja dari sini dulu. Mudah-mudahan aja ini jadi langkah awal untuk mencegah berbagai penyakit. Macam hipertensi, stroke atau penyakit jantung.

Penyakit ini kan memang bisa dialamin siapa pun juga. Apalagi penyakit jantung. Tua, muda, ibu hamil, bayi, baik laki-laki atau perempuan. Sayangnya, penyakit jantung pada perempuan justru gejalanya sering terabaikan.

Fakta ini dipaparin dr Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam sebuah acara kesehatan. Sedih, ya?

Dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 bisa dilihat kalau prevalensi penyakit jantung pada perempuan cukup tinggi yakni sebanyak 1,6 persen yaitu 2.110.000 jiwa. Sedangkan pria berada di 1,3 persen sebanyak 1.865.000. Data ini jadi bukti kalau perempuan lebih berisiko ngalamin serangan jantung.

Menurutnya ciri-ciri penyakit jantung memang nggak sama. Bahkan perempuan punya tanda serangan jantung juga beda.


Menurut dr. Sally kadang ada yang nggak ngerasa sakit dada. Tapi ada juga yang bilang kalau ngerasa dadanya seperti ada yang nindihin satu ton, timbul rasa nggak nyaman,  pegal sampai ke punggung, sesak napas, ngerasa capek, berkeringat nggak normal, sampai ngerasin maag, atau sakit ulu hati.

Padahal, penyakit jantung ini bisa dicegah, loh.

Selain memang harus ngehindarin rokok. dr. Sally bilang, kalau merokok, itu sangat 'diharamkan'. "Terutama untuk perempuan, karena risikonya untuk macam-macam itu lebih tinggi. Bahkan, untuk perokok pasif. Jangan salah nikotin itu bisa nempel di baju."

Informasi yang nggak kalah menarik, dr. Sally juga bilang, untuk mencegah penyakit jantung pada perempuan, penting banget buat ngehindarin stress, jangan sampai depresi.
Depresi, jangan salah depresi pada perempuan4r bisa mengganggu hormonal. Dan hormonal imbalance ini bisa mempengaruhi fungsi dari organ jantung.

Makanya, dr Sally, ingetin kalau perempuan itu perlu belajar mengelola emosi yang baik. Supaya nggak gampang marah dan stress. Biar mood lebih baik.

"Ada penelitiannya, kalau perempuan sudah depresi, ya, nggak hanya serangan jantung saja yang bisa terjadi, tapi hormonal imbalancenya yang tadi itu bisa membuat hipertensi, dan gangguan gula. Bagi perempuan itu lebih sensitif ya," katanya.

Vitamin D Bisa Mencegah Depresi


Ngomongin soal ngelola emosi dengan baik, ini sih masih jadi PR besar buat saya. Paling nggak saya cukup sadar diri kalau urat sabarnya cukup pendek. Gampang banget 'ngegass', ngomong suka kenceng macem motor Dodge Tomahawk yang katanya bisa melesat hingga 675 km/jam.

Nah, kebayang nggak gimana kalau saya lagi emosi?

Untung aja kalau di rumah ada suami yang nggak pernah capek ngingetin. Sekarang, karena anaknya juga udah gede, dia juga udah jauh lebih speak up. Kalau liat ibunya udah mulai emosi, langsung bilang, "Ibu nggak usah marah gitu, dong."

Balik lagi ke soal vitamin, ternyata vitamin D itu emang fungsinya banyak banget! Selama inikan orang-orang taunya manfaat utama Vitamin D untuk kesehatan tulang. Padahal mah.... Vitamin D itu super banget karena fungsinya bejibun.  Termasuk ngurangin perasaan depresi.

Dikutip dari laman HalloSehat, vitamin D ini punya peran besar jaga kesehatan mental. Bahkan ini sudah diteliti lebih dari satu dekade terakhir. Salah satu penelitian menyatakan rendahnya kadar vitamin D dalam tubuh berhubungan dengan munculnya gejala depresi.

Sementara penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian vitamin D mengurangi jumlah gejala yang dialami oleh penderita depresi.  Kondisi depresi yang disebabkan Seasonal Affective Disorder (SAD) yang terjadi di musim dingin juga berkaitan dengan rendahnya kadar vitamin D dalam tubuh.

Nah, mengingat udah mulai musim hujan yang bikin cuaca jadi dingin, nggak ada salahnya sih, kalau mulai nyiapin diri. Termasuk stok vitamin termasuk vitamin D, misalnya.

Tapi tunggu dulu, minum vitamin juga nggak bisa sembarangan sih. Bukan berarti supaya sehat, segala vitamin dan suplemen diminum. Ya nggak gitu juga. Prinsipnya mah, apa pun yang berlebihan nggak baik. Jadi jangan kebablasan aja.

Terus, berapa banyak vitamin yang dibutuhin? Perlu vitamin apa aja, sih?

Supaya lebih gampang, coba deh, pada download aplikasi Jovee. Udah tahu belom kalau sekarang ada aplikasi yang bisa kita jadiin 'asisten' yang dukung kita hidup sehat?

Jovee memang concern dengan dunia kesehatan, bisa dibilang semacam apotek digital di dalam genggaman.

Ya memang sih, aplikasi Jovee ini fokusnya ke vitamin atau suplemen aja. Artinya memang nggak bisa beli obat-obat secara bebas. Tapi lebih memudahkan dalam pembelian suplemen. Tenang aja, orang-orang di balik aplikasi ini semuanya terpercaya dan aman kok, karena memang ditangani langsung oleh apoteker. Harganya juga boleh diadu.


Jadi, saat download Jovee, di awal kita harus isi data dulu. Nggak cuma nama atau usia, tapi lebih ke segala sesuatu yang bisa gambarin kondisi kesehatan kita. Misalnya, nih, pertanyaan semacam, profil pekerjaan. Seberapa sering aktivitas di luar atau dalam ruangan, berapa lama gunain laptop, bahkan ada pertanyaan seputar kondisi kesehatan kulit.

Makanya, untuk jawab pertanyaan harus jujur.

Nah, dari situ deh, bisa disesuaikan sama kebutuhan vitamin atau suplemen apa. Soal harga juga nggak perlu khawatir, sih. Bisa ngikutin sama budget kok. Mulai dari pilihan yang basic seharga 99 ribu, standar, premium, sampai yang harganya satu jutaaan untuk paket ultimate.

Dan ini sudah bisa dikonsumsi buat sebulan, loh. Kalau sudah dipilih, pesan, bayar, cuzz... Langsung dikirim.



Kebetulan waktu acara peluncurannya saya dateng bereng temen-temen media dan blogger.
Nah, waktu itu Natali Ardianto, selaku CEO Jovee juga sempet mention soal kebutuhan Vitamin D.

Lewat riset yang sudah dilakukan bersama seluruh timnya, memang banyak data yang mempelihatkan kalau Vitamin D itu banyak banget. Selain untuk kesehatan tulang, manfaat vitamin D yang lain juga sangat baik buat kesehatan kulit karena bantu ngilangin jerawat. Termasuk bantu proses kemoterapi untuk penderita cancer, dan bantu ngurangin depresi.

Sayangnya, menurut data yang diungkapkan Natali, 95% perempuan di Indonesia kekurangan vitamin D. Soalnya, saat cahaya matahari yang ngeluarin Vitamin D keluar, justru sudah banyak yang di dalam ruangan buat kerja.


"Saat pukul 9-10 masyarakat sudah di dalam ruangan untuk kerja, padahal saat tersebut yang tepat untuk menyerap Vitamin D," katanya.

Sementara kalau cuma ngandelin dari makanan aja, kebutuhan vitamin itu memang belum tercukupi. Makanya butuh asupan suplemen multivitamin.

Jadi gimana? Supaya tahu kebutuhan vitaminnya apa aja, nggak ada salahnya lho unduh aplikasi Jovee. Nanti bisa langsung dapat rekomendasi vitamin yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Toh, aplikasi ini juga udah tersedia di App store dan Google Play.

Jadi buat apa nunggu lagi?

Kamis, 05 Desember 2019

Pesan untuk anakku Bumi: "Bercanda boleh, asalkan.... "

Desember 05, 2019 0
Pesan untuk anakku Bumi: "Bercanda boleh, asalkan.... "
Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 22 November, pas lagi asik-asik kerja,  eh ada WhatsApp yang masuk. Isinya cukup bikin kaget.

Pesen yang masuk dari wali kelasnya Bumi, bilang kalau hari itu Bumi udah bercanda berlebihan.

Isinya begini....

Assalamualaikum mom mau info tentang Bumi di sekolah. Hari ini saya berikan hukuman untuk Bumi tidak boleh bermain selama seminggu ke depan. Karena sudah beberapa kali saya tegur Bumi untuk tidak bercanda berlebihan. 
Bumi bermain dorong2an dan tidak melihat ada temannya sedang duduk di karpet. Sehingga meniban temannya dan jodat temannya benjol. Kami kirimkan buku kasus utk ditandatangani, dan senin dibawa kembali. 
Mohon kerjasamanya ya mom untuk menasehati Bumi agar bermain dan bercanda tidak berlebihan. Kami di sekolahpun sudah memberikan pengertian kepada Bumi. Terimakasih mom 🙏🏻

Selain kaget, pas baca wa ini langsung kepikiran juga gimana kondisi temennya Bumi. Mengingat Bumi badannya gede kan, ya... kalau ketiban badan yang beratnya di atas 30 kg, mayan banget rasanya....


Selain itu, langsung kepikiran juga, setelah kejadian, apa Bumi langsung minta maaf ke temennya? Sadar kalau dia memang salah? Kalau salah, ya, artinya memang harus minta maaf duluan.

Alhamdulillah saat ditanya ke Ms-nya, Bumi langsung minta maaf.

PR lain, ya, harus ngobrolin ke Bumi pas udah di rumah.

Akhirnya begitu sampai rumah, mulai deh, mancing sedikit. Pengen tau aja, cerita versi Bumi gimana.

Bumi langsung cerita, kalau di sekolah tadi dia main sama temennya. Cuma karena main dan bercandanya berlebihan, dia dudukin temennya sampe benjol.

Tadi aku tuh, lagi main, bu, sama temen aku. Aku jatoh karena kedorong, nggak sengaja aku dudukin temen aku. Aku nggak liat, dia juga lagi nungging. Akhirnya jidatnya kepentok ubin sampe benjol.

Terus, temen kamu gimana? 
Dia  sampai nangis bu.. 
Wah, kalau gitu kenceng banget, ya. Terus Mas Bumi udah minta maaf belom? 
Udah, kok 
Bagus. Langsung minta maaf, atau baru bilang setelah Ms ingetin? 
Aku langsung bilang, kok. 
Iya, bagus kalau gitu. Temen kamu kan juga pasti sakit, kalau mas Bumi yang kejedot ubin juga gimana rasanya? 
Ya sakit. 
Kalau gitu, lain kali saat main harus seperti apa, Mas? 
Ya, tergantung mainnya kaya apa... Main apa dulu 
Bukan, maksud ibu, setelah kejadian ini kira-kira supaya nggak keulang lagi kaya gitu, Mas Bumi harus gimana? 
Ooooh.... Ya, harus hati-hati. Jangan bercanda berlebihan.Terus Ms kasih hukuman apa ke Bumi? 
Aku seminggu nggak boleh main. Aku kan dapat case book.

HUFFTTT...

Ada-ada, deh,  deh ya. Kalau denger cerita temen lain, pengalaman kaya gini emang pasti ada aja, sih. Ini baru kelas 4 SD. Gimana kalau udah gedean?

Lagian, siapa juga, sih, yang mau kejadian atau kecelakaan kaya gini terjadi?

Bukan cari pembenaran kalau bercanda berlebihan itu boleh. Justru, dari sini paling nggak Bumi bisa belajar, kalau main sama temen, bercanda juga ada aturannya. Bercanda berlebihan emang bisa nimbulin risiko.


Akhirnya, jadi ingetin Bumi lagi soal aturan bermain. Selain memang jangan bercanda berlebihan yang bisa bikin orang celaka. Seperti yang baru aja Bumi alamin, atau malah yang lebih bahaya lagi semacam bercanda narik bangku.

Familar, dong, dengan kasus kaya gini? Dari dulu tuh, udah ingetin Bumi kalau memang lagi bercanda, nggak usah pakai narik bangku segala. Teman celaka dan kesakitan, bukan sesuatu yang seharusnya diketawain.

Menghina, ngeluarin kata-kata yang nggak baik juga termasuk bercanda berlebihan. Jadi pesennya ke Bumi, "Kalau bercanda, jangan pakai kata-kata yang nggak sopan... Termasuk kata-kata yang menghina dan bikin temen kamu jadi sedih"

Aturan lainnya, kalau sedang main... Bercanda sama temen, bukan berarti boleh bohong. Iya bercanda ga perlu bohong segala...misalnya, "Oura-pura yuk, bilang ke bapak kalau tugas kamu belom selesai. Bercanda aja...."

Tanpa sadar, bercanda memang suka diselingi sama bohong bohong kecil. Tapi.....

Itu juga dosa, sayang.....

Ya, nggak ada salahnya, sih, kalau ingetin ke anak, bercanda itu kan tujuannya memang buat seneng-seneng. Supaya bisa ketawa sama-sama. Nah, kalau sampai orang lain celaka, sedih, atau malah kesel karena ngerasa dibohongin, ya, buat apaaaa???

Becanda berlebihan yang ada nanti ujung2nya malah bikin berantem. Kan repot.